Solar Langka di Kubar, Sembako Naik Kendaraan Solar Sulit Beroperasi

SENDAWAR, KALTIM PERS — Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar mulai dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah Kecamatan Sendawar, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, sejak Selasa (11/8/2026).

Kondisi tersebut menambah beban masyarakat di tengah kenaikan harga sejumlah bahan pokok dan meningkatnya biaya angkutan sembako melalui jalur Sungai Mahakam akibat kemarau.

Kelangkaan solar dikhawatirkan berdampak pada kenaikan biaya distribusi barang yang pada akhirnya dapat mendorong harga kebutuhan pokok semakin tinggi.

Selain itu, kondisi tersebut menyulitkan warga yang menggantungkan mata pencaharian pada kendaraan berbahan bakar solar, terutama pelaku usaha angkutan material bangunan dan distribusi barang.

Selama ini, masyarakat masih dapat memperoleh solar dari sejumlah pengecer. Namun, dalam beberapa hari terakhir, stok solar di tingkat pengecer semakin sulit ditemukan.

Salah seorang pengecer solar di Kampung Belempung Ulaq, Kecamatan Barong Tongkok, mengatakan dirinya kini tidak lagi menjual solar karena kesulitan mendapatkan pasokan.

“Memang sulit cari solar. Biasanya kami bisa mengantre di SPBU, tetapi sekarang sulit dan tidak ada lagi. Makanya kami sudah tidak menjual solar lagi,” ujarnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, harga solar di tingkat pengecer sebelumnya berkisar Rp 16.000 hingga Rp 19.000 per liter.

Warga kemudian memiliki pilihan untuk menggunakan BBM jenis Dexlite. Namun, harga Dexlite dinilai jauh lebih mahal sehingga menambah biaya operasional kendaraan.

Kendaraan kehabisan solar di perjalanan

Kelangkaan solar juga dialami Hakim, pemilik kendaraan jenis Strada.

Pada Jumat (14/8/2026) malam, kendaraan miliknya kehabisan solar saat sedang dalam perjalanan.

Hakim kemudian berupaya mencari solar ke sejumlah pengecer. Namun, tidak satu pun pengecer yang didatanginya memiliki stok solar.

Akibat kondisi tersebut, kendaraan roda empat miliknya terpaksa diparkir di pinggir jalan sembari menunggu mendapatkan solar agar perjalanan dapat dilanjutkan.

Kondisi ini dikhawatirkan semakin menghambat aktivitas masyarakat yang bergantung pada kendaraan berbahan bakar solar.

Pelaku usaha angkutan material bangunan dan transportasi barang menjadi salah satu kelompok yang paling terdampak karena kendaraan mereka membutuhkan solar untuk beroperasi.

Harga sembako ikut dikeluhkan

Di tengah kelangkaan solar, masyarakat juga mengeluhkan kenaikan harga sejumlah bahan pokok.

Solita, seorang ibu rumah tangga, mengaku terkejut saat berbelanja di Pasar Olah Bebaya Melak.

Menurut dia, uang belanja sebesar Rp 500.000 kini hanya cukup untuk membeli sejumlah kebutuhan pokok dan sayuran.

“Hampir semua bahan pokok naik,” kata Solita.

Kenaikan harga bahan pokok tersebut dikhawatirkan semakin terasa apabila biaya distribusi barang ikut meningkat akibat sulitnya memperoleh solar.

Hingga berita ini ditulis, belum diketahui secara pasti penyebab kelangkaan solar di sejumlah wilayah Kutai Barat. Belum diketahui pula kapan pasokan solar akan kembali normal.

Masyarakat berharap pasokan BBM, khususnya solar, segera kembali tersedia agar aktivitas transportasi dan distribusi barang dapat berjalan normal. (ton/KP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *