Jutaan Ikan Pengapung, Bakal “Bau Busuk” Nodai Udara di Beloan

Jutaan ikan mengapung pascabanjir. Jenis ikan kendia dan biawan sudah tidak harganya karena terlalu banyak.

Pagi baru saja merekah ketika riak Sungai Beloan di Muara Beloan mulai dipenuhi perahu-perahu kecil. Satu per satu nelayan menarik jaring yang semalaman dipasang. Di dalamnya, ikan biawan, baung, lais, patin, hingga toman berkilau diterpa cahaya matahari. Bagi warga Kampung Muara Beloan, Kecamatan Muara Pahu, Kabupaten Kutai Barat, pemandangan seperti itu bukan sekadar rutinitas. Itulah pertanda musim bangai telah datang.

Musim bangai menjadi saat yang paling dinantikan masyarakat. Selama sekitar dua pekan, ketika debit air dan kondisi cuaca mendukung, sungai seolah menghadiahkan hasil tangkapan yang berlimpah. Hampir setiap keluarga yang menggantungkan hidup dari perikanan turun ke sungai sejak dini hari, memanfaatkan momentum yang hanya datang sekali dalam setahun.

Namun karena melimpah ikan tidak ada yang membeli. Sementara akses sulit. Akhirnya ikan membusuh di bantaran sungai. Hal ini membuat udara di lingkungan pemukiman masyarakat terganggu. Apalagi cuaca panas tinggi, ikan yang mengapung itu lebih cepat mati.

Melimpahnya ikan air tawar bukan hanya mengisi perahu-perahu nelayan, tetapi juga menghidupkan denyut ekonomi kampung. Hasil tangkapan dipasarkan ke berbagai wilayah di Kutai Barat hingga kabupaten tetangga. Aktivitas jual beli meningkat, begitu pula kebutuhan akan jasa angkut sungai maupun darat. Para pedagang ikan, pengepul, hingga pelaku usaha olahan ikan turut menikmati berkah musim panen tersebut.

Di Muara Beloan, bangai lebih dari sekadar musim ikan. Ia telah menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan turun-temurun. Warga saling membantu saat memasang alat tangkap, mengangkut hasil panen, hingga memasarkan ikan. Kebersamaan itu menjadikan musim bangai sebagai peristiwa sosial yang mempererat hubungan antarmasyarakat.

Petinggi Muara Beloan, Rudy Suhartono, menilai potensi perikanan yang dimiliki kampungnya merupakan aset besar yang harus dijaga. Menurut dia, melimpahnya hasil tangkapan setiap musim bangai menunjukkan kekayaan sumber daya perairan yang mampu menjadi penopang ekonomi masyarakat.

“Musim bangai menjadi bukti bahwa Muara Beloan memiliki sumber daya perikanan yang sangat melimpah. Potensi ini bukan hanya memberikan penghasilan bagi para nelayan, tetapi juga menggerakkan ekonomi masyarakat secara luas. Banyak sektor usaha yang ikut tumbuh ketika musim panen ikan berlangsung,” katanya saat ditemui Rabu, 15 Juli 2026.

Bagi Rudy, menjaga kelestarian sungai sama pentingnya dengan memanfaatkan hasilnya. Pemerintah kampung, kata dia, berkomitmen mengelola potensi perikanan secara berkelanjutan agar manfaatnya tetap dirasakan generasi berikutnya.

Ia berharap Muara Beloan kelak dikenal bukan hanya karena musim bangainya, tetapi juga sebagai sentra perikanan air tawar di Kutai Barat. Dengan pengelolaan yang baik, sektor tersebut diyakini mampu membuka lapangan kerja, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus memperkuat ketahanan pangan daerah.

Harapan itu, menurut Rudy, perlu ditopang dukungan pemerintah, mulai dari pembangunan infrastruktur, kemudahan akses pemasaran, hingga pembinaan bagi nelayan dan pelaku usaha perikanan.

Di tepian sungai, Debi, salah seorang warga Muara Beloan, memahami betul arti datangnya musim bangai. Baginya, dua pekan musim panen adalah kesempatan untuk menambah penghasilan keluarga.

“Kalau musim bangai biasanya sekitar setengah bulan. Selama itu hasil tangkapan ikan cukup melimpah, sehingga banyak warga turun mencari ikan. Hasilnya bisa dijual ke pengepul maupun langsung ke pasar, sehingga pendapatan masyarakat ikut meningkat,” ujarnya.

Bagi masyarakat Muara Beloan, musim bangai bukan hanya tentang banyaknya ikan yang tertangkap. Ia adalah penanda bahwa alam masih memberi ruang bagi kehidupan, selama manusia mampu menjaganya. Dari aliran sungai yang menghidupi kampung itu, harapan terus mengalir—bahwa potensi perikanan Muara Beloan akan tetap menjadi sumber kesejahteraan bagi generasi yang akan datang. (adv/diskominfokubar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *