Suara ketinting memecah kesunyian pagi di Muara Pahu. Perahu kayu bermesin itu meluncur pelan menyusuri Sungai Jintan, anak Sungai Mahakam yang membelah hutan dan rawa di antara Kampung Muara Baroh dan Kampung Sebelang, Kecamatan Muara Pahu, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Matahari baru naik ketika seorang nelayan mematikan mesin. Bukan karena tujuan telah tiba, melainkan karena baling-baling perahunya menghantam dasar sungai.

Air terlalu dangkal.
Sepuluh tahun lalu, peristiwa seperti itu nyaris tak pernah terjadi. Sungai Jintan mengalir penuh, tenang, dan murah hati. Nelayan hanya membutuhkan beberapa jam untuk memenuhi perahu dengan baung, patin, lais, hingga toman. Di permukaan sungai, sesekali muncul lengkungan punggung pesut Mahakam yang berenang mengikuti gerombolan ikan. Mamalia air tawar yang kini kian langka itu seolah menjadi penanda bahwa Sungai Jintan masih hidup.
Kini, pesut nyaris tak pernah terlihat.
Yang tersisa hanyalah alur sungai yang semakin menyempit, lumpur yang mulai mengambil alih permukaan air, dan kegelisahan para nelayan yang kehilangan sumber penghidupan.
Tak ada babad yang mencatat Sungai Jintan sebagai tempat lahirnya kerajaan atau saksi pertempuran besar. Nama sungai kecil itu nyaris tak pernah muncul dalam sejarah Kalimantan. Namun, bagi masyarakat Muara Pahu, Sungai Jintan adalah sejarah yang mereka jalani setiap hari.
Dari sungai itulah anak-anak mereka bersekolah. Dari sungai itu pula dapur tetap mengepul. Generasi demi generasi hidup dari ikan yang melimpah di perairan yang menjadi bagian dari sistem Sungai Mahakam tersebut.
Kini, sejarah kecil itu seperti sedang berhenti mengalir.
Di sejumlah titik, tepian sungai retak karena kekeringan. Lumpur menghampar menggantikan air. Ketinting yang dahulu bebas melintas kini berkali-kali kandas. Untuk mencapai lokasi penangkapan ikan, nelayan harus turun dari perahu, mendorongnya perlahan melewati dasar sungai yang terus meninggi.
Bagi warga, perubahan itu bukan terjadi dalam semalam.
Mereka mengaku mulai merasakan perbedaan sejak aktivitas pertambangan batu bara berkembang di sekitar kawasan tersebut. Warga juga menyoroti pembangunan tanggul atau parit pada salah satu alur sungai yang, menurut mereka, mengubah arah aliran air menuju Sungai Jintan.
Penilaian itu lahir dari pengalaman yang mereka alami setiap hari. Mereka melihat debit air terus berkurang dari tahun ke tahun. Saat musim kemarau datang, sungai lebih cepat surut dibanding sebelumnya. Pendangkalan pun semakin nyata.
Namun, dugaan mengenai hubungan antara aktivitas pertambangan dan perubahan kondisi Sungai Jintan masih memerlukan pembuktian melalui kajian hidrologi dan lingkungan yang komprehensif. Penjelasan dari perusahaan yang beroperasi di sekitar kawasan maupun instansi pemerintah yang berwenang juga diperlukan agar penyebab perubahan tersebut dapat dipastikan secara ilmiah.
Sementara kajian itu belum hadir, kehidupan para nelayan terus berubah.
Dulu mereka pulang dengan perahu penuh ikan. Kini, sehari penuh menyusuri sungai belum tentu menghasilkan tangkapan yang cukup untuk dijual. Jaring lebih sering terangkat kosong. Penghasilan menurun, sementara kebutuhan keluarga tak pernah ikut menyusut.
Bagi keluarga nelayan, ikan bukan sekadar komoditas. Ikan adalah uang sekolah anak, biaya berobat, beras di dapur, hingga kebutuhan hidup sehari-hari. Ketika ikan menghilang, yang ikut hilang adalah rasa tenang menghadapi hari esok.
Sebagian nelayan mencoba bertahan dengan mencari daerah tangkap yang lebih jauh. Konsekuensinya, biaya bahan bakar bertambah, waktu bekerja lebih panjang, dan hasilnya belum tentu lebih baik. Sebagian lainnya memilih meninggalkan profesi yang diwariskan turun-temurun. Mereka menjadi buruh harian, pekerja serabutan, atau menerima pekerjaan apa saja demi menjaga dapur tetap berasap.
Musim kemarau memperlihatkan wajah paling keras dari perubahan itu. Air surut hingga ketinting tak lagi bisa melintas. Warga bergotong royong membersihkan alur sungai agar perahu masih dapat digunakan untuk aktivitas sehari-hari. Gotong royong itu bukan solusi, melainkan cara bertahan.
Padahal, Sungai Jintan bukan sekadar jalur transportasi air. Sungai ini merupakan bagian dari bentang ekologi Mahakam yang menghubungkan rawa, danau, serta anak-anak sungai lain menjadi habitat berbagai jenis ikan air tawar dan satwa endemik, termasuk pesut Mahakam. Ketika salah satu mata rantai ekosistem itu terganggu, dampaknya dapat merembet ke seluruh kawasan.
Di tengah perubahan tersebut, masyarakat juga menyoroti keberadaan perusahaan tambang di sekitar wilayah sungai. Sejumlah nelayan mengaku belum merasakan program pemberdayaan masyarakat maupun tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) yang mampu membantu memulihkan mata pencaharian mereka. Pandangan itu merupakan penyampaian masyarakat yang masih memerlukan tanggapan dari pihak perusahaan.

Harapan warga sebenarnya tidak muluk.
Mereka menginginkan pemerintah, perusahaan, akademisi, dan lembaga lingkungan duduk bersama mengevaluasi kondisi Sungai Jintan secara menyeluruh. Mereka berharap ada penelitian yang mampu menjelaskan penyebab berkurangnya debit air, mengukur dampaknya terhadap ekosistem, sekaligus merumuskan langkah-langkah pemulihan yang dapat dipertanggungjawabkan.
Sungai Jintan mungkin tak pernah menjadi nama besar dalam sejarah Kalimantan.
Namun, bagi masyarakat Muara Pahu, sungai itu adalah ruang hidup yang tak tergantikan. Di sanalah mereka belajar mengenal musim, membaca arus, dan memahami bahwa sungai bukan hanya bentangan air, melainkan bagian dari identitas.
Kini, ketika airnya semakin surut, yang mengering bukan sekadar aliran sungai. Bersama hilangnya ikan-ikan dan menghilangnya pesut dari permukaan air, harapan para nelayan perlahan ikut menyusut.
Sebab, ketika sebuah sungai berhenti menghidupi manusia, yang sesungguhnya sedang dipertaruhkan bukan hanya sebuah ekosistem, melainkan masa depan orang-orang yang sejak lama menjadikan sungai sebagai rumah. (rud/KP)












