Seluas mata memandang di padang semak belukar dan lahan jadi terang ( habis terbakar). Berbagai satwa ikut kehilangan tempat bermalam dan harus mengungsi jauh ke hutan. Warga ikut panik si jago merah ada di mana-mana mengancam pertanian dan pemukiman. Berjibaku TNI/Polri, BPBD dan masyarakat turun padam kebakaran lahan dan hutan (Karhutla).
Catatan: Rudy Suhartono
Ketika lahan terbakar dan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyelimuti udara, harapan akan turunnya hujan kian menguat. Api yang semula membakar vegetasi kering berubah menjadi persoalan yang merembet ke berbagai sisi kehidupan. Ironisnya, lahan dibakar oleh manusia, tetapi ketika api meluas dan asap mengancam kesehatan, hujan dari langit justru menjadi salah satu pertolongan yang dinantikan. Di tengah kemarau, warga harus menghadapi udara yang tercemar, sementara upaya pemadaman tidak selalu mudah dilakukan.
Dampak karhutla bukan lagi sebatas pepohonan yang hangus atau lahan yang menghitam. Asap yang terhirup dapat memicu gangguan pernapasan dan memperburuk kondisi kesehatan, terutama bagi kelompok rentan. Sejumlah warga dilaporkan harus menjalani perawatan di rumah sakit akibat gangguan paru-paru yang dikaitkan dengan paparan asap karhutla. Situasi ini memperlihatkan bahwa kebakaran lahan bukan persoalan yang hanya merugikan pemilik lahan, melainkan ancaman bagi kesehatan masyarakat luas. Mereka yang tidak pernah menyalakan api pun ikut menanggung akibatnya.
Dunia pendidikan juga terkena imbas. Ketika kualitas udara memburuk dan asap mengganggu aktivitas di luar ruangan, anak-anak sekolah harus menjalani kegiatan belajar dari rumah atau Belajar dari Rumah (BDR). Ruang kelas yang biasanya dipenuhi suara guru dan murid berubah menjadi ruang belajar di rumah masing-masing. Kebijakan tersebut menjadi langkah perlindungan bagi peserta didik, tetapi sekaligus menunjukkan betapa jauh dampak kebakaran menjalar. Asap tidak hanya menutup pandangan, melainkan juga mengubah rutinitas keluarga dan proses pendidikan.
Sektor transportasi udara pun tidak luput dari gangguan. Sejumlah jadwal penerbangan dari dan menuju Kutai Barat, melalui Bandara Melalan, harus dibatalkan ketika kondisi dinilai tidak memungkinkan penerbangan berlangsung dengan aman. Pembatalan itu berpotensi menghambat perjalanan masyarakat, urusan pekerjaan, hingga akses terhadap layanan penting di luar daerah. Bagi wilayah yang bergantung pada konektivitas udara, gangguan penerbangan bukan sekadar perubahan jadwal. Karhutla telah memperlihatkan bagaimana persoalan lingkungan dapat merambat menjadi persoalan kesehatan, pendidikan, dan mobilitas masyarakat sekaligus.
Di tengah rangkaian dampak tersebut, memohon hujan kepada Tuhan menjadi ungkapan harapan yang mudah dipahami. Namun, doa tidak seharusnya menjadi satu-satunya tumpuan setelah lahan telanjur terbakar. Pencegahan pembakaran, pengawasan kawasan rawan, penanganan titik api sejak dini, dan penegakan aturan harus berjalan seiring dengan upaya pemadaman. Lalu masyarakat luas bisa ikut membayar harganya. Hujan mungkin membantu memadamkan bara, tetapi tanggung jawab menjaga lingkungan tidak dapat diserahkan kepada langit semata.(*/KP)












