Mencari Ikan di Muara Sungai Telaus, Warga Lakan Bilem Diserang Buaya 3 Meter

SENDAWAR, KALTIM PERS – Muara Sungai Telaus biasanya menjadi tempat warga Kampung Lakan Bilem, Kecamatan Nyuatan, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, mencari ikan. Namun, Selasa (11/8/2026), aktivitas yang telah menjadi bagian dari keseharian itu berubah menjadi kepanikan.

Seorang warga, Edi Susanto Sius usia sekitar 47 tahun menjadi korban serangan buaya ketika sedang mencari ikan menggunakan jaring atau pukat. Saat itu, korban tidak sendirian. Ia ditemani istrinya di kawasan muara sungai.

Kepala Kampung Lakan Bilem, Sukran, mengatakan peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 13.00 hingga 14.00 Wita.

Menurut dia, korban sedang beraktivitas di sungai ketika tiba-tiba seekor buaya menyerang dan menggigitnya.

“Kejadiannya sekitar jam satu sampai jam dua siang. Korban sedang mencari ikan di sungai,” kata Sukran.

Serangan tersebut membuat korban mengalami luka dan pendarahan. Korban juga dilaporkan mengalami kesulitan berjalan serta luka pada bagian jari tangan yang diduga mengalami patah.

Warga kemudian mengevakuasi korban dan membawanya ke RSUD Pratama Sendawar di Kecamatan Linggang Bigung. Jarak dari lokasi kejadian menuju rumah sakit diperkirakan sekitar 28 kilometer.

Hingga malam hari, korban dilaporkan masih mendapatkan penanganan setelah mengalami pendarahan akibat serangan tersebut.

Ketika Sungai Menjadi Bagian dari Kehidupan

Bagi masyarakat Kampung Lakan Bilem, sungai bukan sekadar aliran air yang membelah wilayah permukiman.

Sungai menjadi bagian dari kehidupan. Di sanalah sebagian warga mencari ikan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sungai juga menjadi bagian dari lingkungan tempat masyarakat beraktivitas dari generasi ke generasi.

Namun, kedekatan masyarakat dengan sungai sekaligus membuat potensi pertemuan dengan satwa liar sulit dihindari.

Kampung Lakan Bilem dikelilingi banyak aliran sungai. Sungai Lakan Bilem merupakan bagian dari kawasan aliran Sungai Kelaus. Di sejumlah titik, jarak permukiman warga dengan sungai bahkan hanya sekitar 50 meter.

Kondisi geografis tersebut membuat kewaspadaan terhadap keberadaan buaya menjadi penting, terutama bagi warga yang beraktivitas langsung di perairan.

“Di sini memang banyak sungai. Makanya wilayah ini termasuk yang rawan,” ujar Sukran.

Buaya yang menyerang korban diperkirakan memiliki panjang sekitar tiga meter. Ukuran tersebut menunjukkan bahwa ancaman satwa liar di kawasan sungai tidak bisa dianggap sepele.

Puluhan Tahun Tanpa Serangan

Keberadaan buaya di sekitar aliran sungai sebenarnya bukan hal yang sama sekali asing bagi warga.

Namun, menurut informasi dari masyarakat, serangan terhadap manusia seperti yang terjadi pada Selasa itu disebut sebagai kejadian pertama dalam puluhan tahun terakhir di Kampung Lakan Bilem.

Peristiwa tersebut sontak menjadi perhatian warga. Aktivitas mencari ikan yang selama ini dianggap sebagai kegiatan biasa kini kembali mengingatkan masyarakat bahwa sungai juga memiliki risiko.

Sukran berharap kejadian tersebut menjadi perhatian, tidak hanya bagi warga Kampung Lakan Bilem, tetapi juga masyarakat dari luar kampung yang datang mencari ikan.

Ia mengusulkan agar imbauan mengenai potensi serangan buaya disampaikan melalui berbagai media. Dengan demikian, informasi mengenai kawasan rawan dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.

“Perlu ada imbauan melalui media supaya warga maupun orang yang datang mencari ikan lebih berhati-hati,” ujarnya.

Hidup Berdampingan dengan Alam

Kampung Lakan Bilem dihuni sekitar 360 jiwa dengan jumlah keluarga berkisar 102 hingga 130 kepala keluarga.

Sebagian besar warga bekerja sebagai petani, pekebun, dan peladang. Sebagian lainnya juga menggantungkan aktivitas ekonominya pada perikanan.

Bagi mereka, menjauh sepenuhnya dari sungai bukan perkara mudah. Sungai merupakan bagian dari sumber penghidupan sekaligus lingkungan tempat mereka tinggal.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar menghindari sungai, melainkan bagaimana masyarakat dapat beraktivitas dengan tingkat kewaspadaan yang lebih tinggi.

Peristiwa serangan buaya tersebut menunjukkan bahwa ruang hidup manusia dan satwa liar dapat saling beririsan. Ketika wilayah permukiman, aktivitas mencari ikan, dan habitat satwa berada dalam satu bentang alam, kewaspadaan menjadi bagian penting dari keseharian.

Kini, setelah seorang warga menjadi korban serangan buaya, sungai yang selama ini menjadi tempat mencari penghidupan meninggalkan pesan baru bagi masyarakat Lakan Bilem. Tetap menjadi sumber kehidupan, tetapi juga harus didatangi dengan kehati-hatian.(rud/KP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *