JAKARTA, KALTIM PERS— Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan berdampak terhadap sekitar 12,5 juta jiwa di tujuh provinsi, yakni Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur. Kabut asap yang ditimbulkan tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga meningkatkan risiko gangguan kesehatan.
Dampak kesehatan paling banyak terlihat dari kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Hingga 9 September 2026, tercatat 113.336 kasus ISPA di wilayah terdampak. Selain itu, empat orang dilaporkan meninggal dunia, sementara puluhan warga harus mendapatkan penanganan medis dan sebagian lainnya mengungsi akibat kondisi lingkungan yang terdampak asap.

Paparan asap karhutla dapat memperburuk gangguan pernapasan, termasuk asma dan penyakit paru kronis. Kelompok yang paling rentan meliputi anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta warga yang sebelumnya memiliki penyakit pernapasan. Kondisi tersebut menjadikan kabut asap sebagai persoalan kesehatan masyarakat yang membutuhkan penanganan, bukan semata-mata persoalan lingkungan.
Pemerintah memperkuat layanan kesehatan di daerah terdampak dengan mengerahkan tenaga kesehatan, menyiagakan fasilitas pelayanan kesehatan, serta mendistribusikan masker dan logistik medis. Masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar ruangan saat asap pekat, menggunakan masker yang mampu menyaring partikel halus, memantau kualitas udara, dan segera memeriksakan diri apabila mengalami batuk, sesak napas, atau keluhan kesehatan lainnya. (rud/KP)












