SENDAWAR, KALTIM PERS— Sungai Mahakam terus melebar. Namun ada beberapa titik yang dangkal. Ada banyak penyebabnya. Kini berdampak puluhan kampung di Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Khususnya, pemukiman berada di sepanjang bantaran Sungai Mahakam dan daerah aliran sungai (DAS) Kedang Pahu menghadapi ancaman longsor dan abrasi.
Sedikitnya tiga kejadian longsor dan tanah amblas terjadi dalam kurun 2025 hingga Agustus 2026. Tidak ada korban jiwa dalam rangkaian kejadian tersebut, tetapi sejumlah warga kehilangan tempat tinggal dan harta benda.
Wilayah yang berada di sepanjang bantaran Sungai Mahakam meliputi puluhan kampung adri tujuh kecamatan, yakni Long Iram, Tering, Mook Manaar Bulatn, Kampung Gemuhan Asa (Bohoq) Kecamatan Barong Tongkok, Melak, Muara Pahu, dan Penyinggahan.
Sementara itu, tiga kecamatan lainnya berada di wilayah DAS Kedang Pahu, yakni Muara Lawa, Damai, dan Nyuatan.
Empat rumah amblas ke Sungai Mahakam
Kejadian terbaru berlangsung di Kampung Muara Bunyut, Kecamatan Melak, pada Jumat (7/8/2026) dini hari. Tebing di pesisir Sungai Mahakam mengalami longsor dan mengakibatkan empat rumah warga amblas ke sungai. Peristiwa itu juga menenggelamkan satu unit mobil pikap dan sekitar 30 sepeda motor.
Berdasarkan kajian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Barat, struktur tanah di wilayah RT 001 Kampung Muara Bunyut berada dalam kondisi labil.
Karena itu, area di sekitar lokasi longsor harus dikosongkan untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya longsor susulan.
Peristiwa tersebut bukan kali pertama terjadi di kawasan itu.
Setahun sebelumnya, tiga rumah dan satu musala hancur
Pada Agustus 2025, abrasi parah juga terjadi di Kampung Muara Bunyut. Gerusan air menyebabkan bantaran Sungai Mahakam mengalami tanah amblas hingga sekitar 8 meter.
Akibat kejadian tersebut, tiga rumah warga dan satu musala hancur. Akses jalan kampung yang baru selesai disedimentasi juga terputus total. Sebanyak 13 warga kehilangan tempat tinggal akibat kejadian tersebut.
Longsor juga terjadi di Tering Lama
Sebelumnya, pada Januari 2025, longsor terjadi di Kampung Tering Lama, Kecamatan Tering.
Peristiwa tersebut dipicu hujan deras dengan intensitas tinggi yang meningkatkan debit air Sungai Mahakam. Arus sungai kemudian mengikis tanah di bibir sungai hingga memicu longsor susulan.
Bangunan tempat tinggal warga yang berada di tepi sungai ikut terdampak akibat pergerakan tanah tersebut.
Kombinasi abrasi dan kondisi tanah labil
Berdasarkan pengamatan geomorfologi dan laporan BPBD Kutai Barat, longsor di kawasan pinggiran Sungai Mahakam dipengaruhi sejumlah faktor.
Salah satunya adalah abrasi akibat arus sungai. Volume air Sungai Mahakam yang meningkat, terutama saat musim hujan dan ketika terjadi banjir kiriman dari wilayah hulu seperti Mahakam Ulu, membuat arus sungai semakin kuat.
Arus tersebut secara terus-menerus mengikis bagian kaki tebing sungai. Proses pengikisan atau undercutting ini membuat fondasi alami tebing semakin kehilangan penyangga.
Faktor lainnya adalah gelombang akibat aktivitas transportasi sungai. Lalu lintas kapal penarik ponton atau tongkang pengangkut batu bara dan kayu serta kapal motor berukuran besar menghasilkan gelombang yang menghantam tepian sungai.
Gelombang tersebut dapat mempercepat proses pengikisan pada dinding tanah di sepanjang bantaran sungai.
Selain faktor air dan aktivitas transportasi, kondisi permukiman juga menjadi persoalan. Sebagian rumah warga dibangun sangat dekat dengan bibir sungai.
Ketika bagian bawah tebing terus terkikis, lapisan tanah di atasnya kehilangan daya dukung. Beban bangunan yang berdiri di atas tanah tersebut kemudian dapat memperbesar risiko terjadinya longsor dan tanah amblas secara tiba-tiba.
Rangkaian kejadian di sejumlah kampung tersebut menunjukkan bahwa permukiman yang berada di sepanjang bantaran Sungai Mahakam dan DAS Kedang Pahu perlu mendapat perhatian, terutama di kawasan yang memiliki struktur tanah labil dan mengalami abrasi secara terus-menerus. (rud/KP)


