Hukum  

Sunyi di Tengah Arus Mahakam: Seorang ABK Tewas di Atas Tugboat di Melak

SENDAWAR KALTIM PERS— Malam di atas Sungai Mahakam biasanya hanya diisi suara deru mesin kapal dan riak air yang membelah arus. Namun, dini hari Selasa (28/7/2026), suasana itu berubah menjadi kepanikan ketika seorang anak buah kapal (ABK) ditemukan tidak bernyawa di atas tugboat TB Putra Rupat I yang tengah berada di perairan Kampung Muyub, Kecamatan Tering, Kabupaten Kutai Barat.

Korban diketahui bernama Hizkia Soba (27), warga Kecamatan Tamako, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Ia ditemukan oleh rekan sesama awak kapal sekitar pukul 01.00 Wita dalam kondisi sudah tidak sadarkan diri di area tangga kapal.

Peristiwa itu bermula beberapa saat sebelumnya. Salah seorang awak kapal, Jopan (26), mengaku masih sempat melihat Hizkia berada di ruang makan kapal sekitar pukul 23.50 Wita. Saat itu, korban terlihat menangis sambil berbicara melalui telepon.

Tak lama berselang, Jopan menuju ruang makan untuk memasak mi instan. Ketika kembali ke dek kapal, Hizkia sudah tidak berada di tempat. Pencarian dilakukan ke beberapa bagian kapal, termasuk kamar dan buritan, namun hasilnya nihil.

Hingga akhirnya, saat memeriksa bagian haluan, saksi menemukan korban di area tangga kapal. Temuan tersebut segera dilaporkan kepada kapten kapal dan awak lainnya yang kemudian menghubungi pihak berwenang.

Personel Satuan Polisi Perairan dan Udara (Satpolairud) Polres Kutai Barat bersama Satreskrim dan tim Dokkes segera mendatangi lokasi untuk melakukan penanganan. Polisi melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), memeriksa sejumlah saksi, serta mengevakuasi jenazah ke RSUD Harapan Insan Sendawar (HIS) untuk menjalani pemeriksaan visum.

Hingga kini, aparat kepolisian masih melakukan penyelidikan guna memastikan penyebab pasti kematian korban. Berbagai keterangan saksi dan fakta di lokasi masih terus didalami. Jenazah Hizkia sementara berada di RSUD Harapan Insan Sendawar sambil menunggu kedatangan pihak keluarga dari Sulawesi Utara.

Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kehidupan para pekerja di atas kapal tidak hanya dihadapkan pada kerasnya pekerjaan dan panjangnya waktu di laut maupun sungai, tetapi juga tantangan psikologis yang kerap luput dari perhatian. Karena itu, penyelidikan yang dilakukan kepolisian diharapkan mampu memberikan kepastian atas peristiwa tersebut sekaligus menjadi jawaban bagi keluarga yang kini menanti dengan duka. (ton/KP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *