SENDAWAR, KALTIM PERS — Presidium Dewan Adat (PDA) Kabupaten Kutai Barat memperingati hari ulang tahun (HUT) ke-25 pada Senin (21/7/2026). Momentum ini menjadi penanda perjalanan seperempat abad lembaga adat tersebut dalam menjaga nilai-nilai budaya, hukum adat, serta memperkuat persatuan masyarakat di tengah perkembangan zaman.
Perayaan HUT ke-25 tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi juga menjadi refleksi atas perjalanan organisasi yang sempat mengalami kevakuman selama hampir satu dekade sebelum kembali aktif pada 2025.
Ketua Presidium Dewan Adat Kabupaten Kutai Barat, Yurang, mengatakan usia 25 tahun menjadi momentum untuk memperkuat kembali peran lembaga adat sebagai mitra pemerintah dalam pembangunan sekaligus menjaga harmoni kehidupan masyarakat.
“Seperempat abad perjalanan Presidium Dewan Adat adalah bukti bahwa adat tidak pernah kehilangan tempat di tengah masyarakat Kutai Barat. Kami bersyukur lembaga ini dapat bangkit kembali setelah melalui masa vakum. Ke depan, kami berkomitmen memperkuat kelembagaan adat hingga ke kampung-kampung, melestarikan budaya dan hukum adat, serta menjadi jembatan dalam menjaga keharmonisan masyarakat. Adat bukan hanya warisan leluhur, tetapi juga fondasi moral untuk membangun Kutai Barat yang maju tanpa kehilangan jati dirinya,” kata Yurang.
Ia juga mengajak generasi muda untuk tidak sekadar mengenal adat sebagai bagian dari sejarah, tetapi turut berperan dalam pelestarian budaya.
“Kami berharap generasi muda ikut menjadi pelaku pelestarian budaya. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen daerah menjadi kunci agar nilai-nilai luhur warisan nenek moyang tetap hidup dan relevan menghadapi perkembangan zaman,” ujarnya.
Berawal Sejak Pembentukan Kabupaten
Presidium Dewan Adat Kabupaten Kutai Barat memiliki sejarah yang tidak terpisahkan dari lahirnya Kabupaten Kutai Barat sebagai daerah otonom pada 1999. Saat itu, para tokoh adat, tokoh masyarakat, dan pemerintah daerah bersepakat membentuk wadah yang dapat mempersatukan masyarakat adat sekaligus menjadi mitra pemerintah dalam pelestarian budaya dan penyelesaian persoalan melalui hukum adat.
Pada masa awal pembentukan, almarhum Yustinus Dullah dipercaya sebagai ketua sementara untuk menyiapkan fondasi organisasi hingga terselenggaranya kongres pertama.
Tonggak penting organisasi tercatat pada 21 Juli 2001 melalui Kongres Perdana di Aula Paroki Kristus Raja, Barong Tongkok. Dalam kongres tersebut, almarhum FV Munthi terpilih sebagai ketua definitif pertama untuk masa bakti 2001–2006.
Pada periode kepemimpinannya, struktur organisasi mulai diperkuat dan hubungan kelembagaan dengan Pemerintah Kabupaten Kutai Barat dibangun sebagai mitra dalam pelestarian adat serta menjaga stabilitas sosial masyarakat.
Kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Yustinus Dullah melalui Musyawarah Besar untuk dua periode, yakni 2006–2011 dan 2011–2016. Pada masa itu, Presidium Dewan Adat tidak hanya menjalankan fungsi pelestarian budaya, tetapi juga aktif menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat melalui mekanisme hukum adat.
Sempat Vakum, Aktif Kembali
Setelah masa kepengurusan berakhir pada 2016, aktivitas organisasi tingkat kabupaten mengalami kevakuman selama hampir sepuluh tahun.
Presidium Dewan Adat kembali aktif pada 2025 seiring dukungan Pemerintah Kabupaten Kutai Barat terhadap penguatan kelembagaan adat. Melalui musyawarah para kepala adat dan tokoh masyarakat, Yurang terpilih memimpin organisasi untuk periode 2025–2030.
Sejak kepengurusan baru terbentuk, berbagai program kembali dijalankan, mulai dari pembinaan kelembagaan adat, pelaksanaan sidang adat, mediasi penyelesaian sengketa, hingga memperkuat sinergi dengan pemerintah dan berbagai elemen masyarakat.
Dalam peringatan HUT ke-25, Presidium Dewan Adat juga memberikan penghormatan kepada sejumlah tokoh yang dinilai berkontribusi terhadap perjalanan organisasi, antara lain almarhum FV Munthi, almarhum Yustinus Dullah, mantan Bupati Kutai Barat Ismail Thomas, serta Bupati Kutai Barat Frederick Edwin.

Peringatan HUT ke-25 Presidium Dewan Adat Kabupaten Kutai Barat dihadiri Bupati Kutai Barat Frederick Edwin, mantan Bupati Kutai Barat Ismail Thomas, Sekretaris Daerah Erik Victory, Kepala Bagian Operasional Polres Kutai Barat Komisaris Polisi Emanuel Teguh Budi Santoso, serta jajaran Kodim 0912/Kutai Barat bersama unsur pemerintah daerah, tokoh adat, dan tokoh masyarakat.
Mengusung tema “Warisan Leluhur, Penjaga Masa Depan. Melestarikan Adat, Mempererat Persatuan, Membangun Kutai Barat Beradat,” Presidium Dewan Adat berharap dapat terus memperkuat perannya sebagai rumah bersama masyarakat adat sekaligus mitra strategis pemerintah dalam menjaga budaya, persatuan, dan pembangunan daerah.(adv/diskominfokubar)












