Gubernur Lantik Forum DAS, Berharap Bisa Selamatkan Pesut Mahakam

Gubernur Harum, setelah meresmikan Forum Daerah Aliran Sungai Kalimantan Timur, menyampaikan harapannya agar lingkungan daerah. aliran sungai, yang didorong oleh tingginya tingkat produksi sumber daya alam, tidak berdampak pada kelangsungan hidup organisme yang ada di dalamnya. Salah satunya selamatkan Pesut Mahakam. (foto pemprov Kaltim).

SAMARINDA, KALTIM PERS – Forum Daerah Aliran Sungai (DAS) Kaltim 2025-2030 dilantik Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud di kantor Gubernur Kaltim, Kamis 2 Juli 2026. Besar harapan agar keberadaan Pesut Mahakam bisa hidup dengan baik dan berkembang.

Menyusul kondisi Pesut Mahakam terancam. Data Konservasi RASI  (Rare Aquatic Species of Indonesia) hingga kini tinggal 65 ekor. Jika tidak segera diselamatkan, maka maskot Kaltim akan tinggal kenangan. Hadir, pelantikan DAS Kaltim, Ketua Forum DAS Nasional Dr Ida Bagus Putera Parthama.

RASI adalah sebuah organisasi nirlaba Indonesia yang berfokus pada pelestarian spesies perairan langka. Berdiri sejak tahun 2000. Yayasan ini sangat didedikasikan untuk melindungi populasi Pesut Mahakam dan habitat perairannya di wilayah Sungai Mahakam, Kaltim.

Harum sebutan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud mengatakan, forum Koordinasi Pengelolaan DAS tidak hanya forum diskusi. Tetapi motor penggerak kolaborasi dalam penyusunan rekomendasi kebijakan, penguatan edukasi lingkungan, peningkatan partisipasi masyarakat, serta pengawasan terhadap upaya rehabilitasi dan konservasi daerah aliran sungai.

“Jangan sampai air sungainya mengalir seadanya, tapi programnya tersangkut di hulu,” kata Gubernur.

Ketua Forum DAS Nasional Ida Bagus Putera Parthama menyatakan apresiasi luar biasa atas komitmen Gubernur Harum dalam upaya penyelamatan dan pengelolaan lingkungan, khususnya pengelolaan DAS di wilayah Kaltim.

“Pelantikan Forum DAS ini baru pertama kali dilakukan oleh gubernur dan ini bukti Pak Gubernur Harum memiliki ekspektasi tinggi untuk kerja forum dalam percepatan penyelamatan sungai yang sehat dan lingkungan,” ujar Ida.

Rudy menegaskan, pengelolaan DAS memerlukan perhatian serius, seiring berbagai dinamika pembangunan dan perubahan lingkungan.

Diantaranya perubahan tutupan lahan, aktivitas pertambangan, perkebunan, pembangunan infrastruktur, peningkatan kebutuhan ruang, serta dampak perubahan iklim global telah memberi tekanan terhadap daya dukung dan daya tampung lingkungan.

“Sungai itu tau kapan pasang dan surutnya air. Jangan sampai kita kalah disiplin dengan air. Forum DAS ini harus segera melakukan langkah-langkah terintegrasi berbasis ilmu pengetahuan,’ tegas Harum.

Tidak kalah pentingnya, orang nomor satu Benua Etam ini meminta Forum DAS membangun sinergi yang kuat antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan agar fungsi DAS tetap terjaga secara optimal. “Sungai ini tengahnya kita amankan, hilirkan kita selamatkan dan hulunya tidak boleh rusak,” harapnya.

Novi, Konservasi RASI menyebutkan, keberadaan Pesut Mahakam ini hanya ada di wilayah Kutai Kartanegara (Kukar). Khusus di perairan Kecamatan Muara Kaman, Muara Muntai, hingga kawasan Danau Semayang dan Desa Pela, Kecamatan Kota Bangun.

Khusus di Kubar, dulunya banyak pesut mahakam di Kecamatan Muara Pahu yakni perairan DAS Mahakam dan DAS Kedang Pahu. Kemudian kawasan perairan Kecamatan Penyinggahan. Namun kini nyaris tidak ditemukan lagi.

Harapan RASI kepada pemerintah, agar diperlukan pengawasan di DAS Mahakam untuk pelestarian Pesut Mahakam. Karena bukan tidak mungkin, jika kondisi lingkungan DAS Mahakam ini membaik, Pesut Mahakam bisa kembali lagi. (rud/kp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *