Wardiman Awet Muda, Tak Makan Nasi Sejak Usia 66 Tahun

Wardiman Djojonegoro

Bisa ditiru. Cara hidup sehat dan bugar di usia senja. Sudah 26 Tahun Tak Makan Nasi, Mantan Menteri Pendidikan Ini Tetap Bugar dan Aktif di Usia Senja 92 tahun. Artinya di usia 67 tahun sudah tidak makan nasi lagi. Bisakah kita menirunya. Harus kuat dan sabar.

Di usia yang telah memasuki kepala sembilan, penampilan fisik yang bugar dan pikiran yang tetap tajam adalah sebuah berkah yang luar biasa. Rahasia kebugaran ini terpancar nyata dari sosok Prof. Dr. Ing. Wardiman Djojonegoro. Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) era Presiden Soeharto ini sukses mencuri perhatian publik karena gaya hidup sehatnya yang ekstrem namun konsisten: tidak lagi mengonsumsi nasi sejak tahun 2000.

                Komitmen Sehat:
            26 Tahun Tanpa Nasi

Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, belum makan namanya jika belum menyantap nasi. Namun, stigma tersebut berhasil dipatahkan oleh Wardiman Djojonegoro. Memasuki milenium baru pada 26 tahun silam, begawan teknokrat kelahiran Pamekasan, Madura ini mengambil keputusan besar untuk mencoret nasi dari menu harian utamanya.

Sebagai gantinya, pria kelahiran 22 Juni 1934 ini mengalihkan pemenuhan nutrisinya ke karbohidrat kompleks dan protein nabati yang lebih ramah bagi tubuh di usia senja.

“Sejak tahun 2000, saya sudah tidak lagi memakan nasi,” ungkap Wardiman dalam sebuah kesempatan. Ia memilih menu yang didominasi oleh porsi sayur-mayur yang melimpah, dikombinasikan dengan tahu dan tempe sebagai sumber protein andalannya.

Kedisiplinan yang ia terapkan di meja makan terbukti membuahkan hasil. Di usianya yang kini telah menginjak 92 tahun, Wardiman tetap tampil prima, bugar, dan jauh dari penyakit degeneratif yang kerap mengintai lansia. Pola hidup ini menjadi bukti nyata bahwa pengelolaan kesehatan yang konsisten adalah investasi jangka panjang terbaik.

      Jejak Langkah sang Teknokrat
        Kepercayaan Ali Sadikin dan
                   B.J. Habibie ini :

Kebugaran fisik Wardiman di usia senja seolah mengimbangi rekam jejak kariernya yang luar biasa padat dan dinamis di masa muda. Ia adalah potret teknokrat tulen yang kenyang pengalaman di berbagai lini krusial pemerintahan.

Setamatnya dari SMA Negeri 1 Surabaya pada tahun 1953, Wardiman menembus ITB sebelum akhirnya terbang ke Eropa dengan beasiswa prestisius untuk mendalami ilmu perkapalan dan penerbangan di Technische Universiteit Delft, Belanda, dan dilanjutkan ke Jerman. Di Jerman, ia sempat tinggal satu atap dengan B.J. Habibie, sebuah persahabatan intelektual yang kelak ikut mewarnai arah pengembangan riset dan teknologi di Indonesia.

Sepulangnya ke tanah air, ketajaman manajerial Wardiman langsung memikat Gubernur DKI Jakarta yang legendaris, Ali Sadikin. Selama 13 tahun (1966–1979), Wardiman bekerja keras di jajaran Pemprov DKI Jakarta sebagai salah satu arsitek utama yang membantu Ali Sadikin memodernisasi ibu kota. Setelah itu, ia dipanggil oleh B.J. Habibie untuk memperkuat Kementerian Riset dan Teknologi sebagai Asisten Menteri Bidang Perencanaan (1979–1988), sekaligus dipercaya menjadi Rektor Institut Teknologi Indonesia (ITI) Serpong.

        Mengubah Wajah Pendidikan
     Indonesia lewat “Link and Match”

Puncak pengabdian birokrasinya terjadi ketika Presiden Soeharto menunjuk Wardiman sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam Kabinet Pembangunan VI (1993–1998).

Sebagai Mendikbud, ia mengukir legasi sejarah yang sangat monumental dengan mencetuskan konsep “Link and Match”. Kebijakan visioner ini digagas untuk mengawinkan dunia pendidikan, khususnya sekolah kejuruan (SMK), dengan kebutuhan riil industri. Melalui konsep ini, Wardiman ingin memastikan bahwa lulusan institusi pendidikan di Indonesia memiliki keahlian praktis yang langsung terserap oleh pasar kerja, sebuah fondasi vokasi yang efeknya masih dirasakan hingga hari ini.

           Tetap Produktif Mengawal
           Pemberdayaan Perempuan

Menanggalkan jabatan menteri tidak membuat Wardiman memilih untuk duduk diam di rumah. Sejak tahun 1998 hingga saat ini, ia masih aktif mengemban amanah sebagai Ketua Umum Yayasan Puteri Indonesia (YPI). Di lembaga ini, ia konsisten mengawal visi pembentukan karakter perempuan muda Indonesia yang unggul melalui prinsip Brain, Beauty, and Behavior.

Perjalanan hidup Prof. Wardiman Djojonegoro memberikan pelajaran berharga bagi generasi muda: bahwa kesuksesan karier yang gemilang harus diimbangi dengan investasi kesehatan yang kuat. Komitmennya melepaskan nasi demi beralih ke pola makan sehat terbukti sukses menjaganya tetap menjadi sosok yang produktif, inspiratif, dan terus memberi manfaat bagi bangsa di usia senja.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *