KUKAR, KALTIM PERS – Masih dikategorikan aman bagi warga yang melintas di Jembatan Sungai Mahakam Ing Martadipura, Kecamatan Kota Bangun, Kutai Kartanegara (Kukar). April 2026, sudah dilakukan pengecekan oleh Tim dari Balai Keamanan Jembatan dan Terowongan Khusus (BKJTK) Kementerian Pekerjaan Umum (PU), dahulu Balai Jembatan.
BKJTK Kementerian PU, secara berkala turun langsung untuk mengecek kondisi, melakukan pengukuran, dan uji beban di Jembatan Ing Martadipura Kota Kecamatan Bangun. Lembaga ini yang berwenang memberikan asesmen teknis, rekomendasi pemeliharaan, dan inspeksi jembatan bentang khusus diwilayah tersebut.
Soal benturan batubara yang diangkut ponton mengenai konstruksi bawah jembatan, sudah dilaporkan kepada Dinas Perhubungan Kukar dan Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Samarinda. KSOP sudah mencabut izin tugboat tersebut.
Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Rakyat (DPUPR) Kukar masih menunggu anggaran, perbaikan kerusakan besi atau railing pagar jembatan sebagai pembatas jembatan agar kendaraan tidak terjun ke Sungai Mahakam. Demikian pula, perbaikan jalan berlubang lintasan di jembatan, sehingga rawan kecelakaan dari arah berlawanan berlawanan.
“Anggarannya masih difokuskan pengecoran/ dan pengerasan lean concrete (beton dasar) badan jalan dari Desa Sebelimbingan, Kecamatan Kota Bangun ke Desa Tuana Tuha, Kecamatan Kenohan,” kata Kepala DPUPR Kukar Wiyono melalui Linda Juniarti, Kepala Bidang Bina Marga DPUPR Kukar, kepada Kaltim Pers, Senin, 29 Juni 2026.
DPUPR menjawab hal ini, menyusul ada aspirasi netizen soal kondisi kekuatan jembatan apakah tidak mengalami penurunan khususnya di kawasan rawa. Termasuk, jalan berlubang akses ke jembatan, sehingga rawa terjadi kecelakaan. Karena pengendara tidak memperhatikan keselamatan, karena memilih jalur jalan yang mulus. Sementara lawan arah ada pengendara lain.
TERPANJANG SE-INDONESIA
Diberitakan sebelumnya, jembatan Sungai Mahakam Ing Martadipura, Kecamatan Kota Bangun, Kukar terpajang se-Indonesia. Jaraknya 15,5 km atau hampir sama jarak Kecamatan Melak ke Barong Tongkok. Jembatan ini diresmikan oleh mantan Menteri Dalam Negeri Ma’ruf pada 6 Maret 2006.
Urutan kedua jembatanTumbang Nusa, Kalimantan Tengah panjang 10,2 km, dan ketiga Jembatan Suramadu di Surabaya panjang 5,438 km.
Mantan Bupati Kutai (kini Kutai Kartanegara) almarhum H. Syaukani HR, orang yang berjasa membangun jembatan ini. Niatnya mengoneksikan kelima kecamatan yakni Tabang, Kembang Janggut, Kenohan, Muara Wis dan Muara Muntai.
Jembatan ini menghabiskan dana Rp 117 miliar. Mendatangkan material baja impor dari China dan Australia. Kontruksi jembatan di atas kawasan rawa besar. Sehingga memakan pembangunannya hingga 7 tahun, sejak mulai dikerjakan tahun 1995 dan diresmikan tahun 2006.
Namun yang patut dibanggakan. Ternyata akses jembatan ini, terhubung ke Kutai Barat (Kubar). Melintasi jalan tol akasia di wilayah Hutan Tanaman Industri (HTI) dan jalan hauling perusahaan tambang yakni PT. Fajar Sakti Prima. Kemudian, melintasi beberapa kampung di Kecamatan Mook Manaar Bulan. Berakhir dengan feri penyeberangan di Kecamatan Melak.
Akses jalan yang lebih dikenal tol akasia ini adalah jalan pendekat. Jika dibandingkan dengan jalan trans Kalimantan (Barong Tongkok-Muara Lawa-Siluq Ngurai-Jempang-Bongan), Kukar hingga ke Samarinda. Kondisi jalan lebih baik tol akasia karena lebih mulus. Meski jalan sebagian masih tanah. Namun rutin dilakukan pemeliharaan oleh perusahaan HTI.
Nama Jembatan Martadipura di Kota Bangun berasal dari nama resmi Kesultanan Kutai, yakni Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Penamaan ini merupakan bentuk penghormatan dan pelestarian sejarah dari kerajaan Hindu tertua di Nusantara yang jejak kekuasaannya pernah berpusat di wilayah Kutai. (rud/KP)












