SENDAWAR, KALTIM PERS – Pembangunan akses jalan, perlunya tempat pengungsian, kondisi ekonomi warga yang perlu perhatian. Sebagian terpenting bagi warga Kampung Muara Beloan, Kecamatan Muara Pahu, Kutai Barat (Kubar).
Hal ini disampaikan oleh Camat Muara Pahu, Mauliddin Said kepada Staf Khusus Wakil Presiden (Wapres) dan pejabat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat, ketika kegiatan pertemuan di kediaman Kepala Kampung Muara Beloan, Sabtu, 30 Mei 2026. Kedatangan Brigjen TNI Djohan Darmawan selaku Direktur Dukungan Infrastruktur Darurat di BNPB dan Staf khusus Wakil Presiden ini untuk meninjau banjir di Kampung Muara Beloan. Jenderal bintang satu itu, tampak serius melihat kondiri banjir di Muara Beloan.
Menyusul kondisi banjir di Muara Beloan yang sampai kepada pejabat Istana Negara di Jakarta. Bahkan peninjauan awal ini menyusul rencana kedatangan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka ke Muara Beloan, dijadwalkan besok, Senin, 1 Juni 2026. Hanya saja, kedatangan putra sulung mantan Presiden Joko Widodo tersebut, belakangan belum dapat dipastikan. Hal ini diakibatkan kondisi banjir di Muara Beloan, terus surut.
Mendampingi pejabat pusat ke Muara Beloan tersebut, Bupati Kubar Frederick Edwin, Wakil Bupati Nanang Adriani, Dandim 0912/Kubar Letkol Inf Doni Fransisco. Kemudian, Kapolres Kubar AKBP Boney Wahyu Wicaksono, Penjabat Sekda Kubar Kamius Junaidi, Kepala BPBD Kubar Yudianto Rihartono dan sejumlah kepala satuan kerja perangkat daerah di lingkungan Pemkab Kubar.
Terkait kondisi jalan akses ke Muara Beloan itu, menurut Camat Muara Pahu, harus mendapatkan perhatian. Karena akses ke Muara Beloan tenggelam banjir, saat ini. Sehingga warga sulit melakukan aktivitas ke ibu kota kabupaten. Termasuk bagi warga yang sakit untuk dirujuk ke RSUD Harapan Insan Sendawar. Akses Muara Beloan setelah 9 km kini sudah diperpendek menjadi 7 km lebih itu harus melintasi jalan hauling perusahaan tambang. Yakni PT. Manaar Bulatn Lestari (MBL) dan Jalan hauling PT Teguh Sinar Abadi (TSA). ”Kedepan harus dibuatkan ling akses jalan khusus sehingga warga lebih mudah tanpa risiko keselamatan jika dipaksakan terus melintasi jalan hauling produksi batu bara tersebut,” kata mantan Camat Melak didampingi Kepala Kampung Muara Beloan, Rudy Suhartono.
Untuk tempat pengusian, Camat Muara Pahu bersama Kepala Kampung Muara Beloan Rudy Suhartono berharap, ada bangunan terapung beberapa unit. Hal ini digunakan untuk lokasi pengungsian bagi warga korban banjir. Muara Beloan yang memiliki luas 8.430 hektar itu tidak ada perbukitan. Jika banjir besar tidak ada lokasi pengungsian. ”Dengan adanya bangunan terapung maka warga akan terselamatkan,” kata Mauliddin Said, dibenarkan Petinggi Muara Beloan.
Meski banjir di Muara Beloan sudah mulai surut sejak Rabu, 27 Mei 2026. Namun sangat lambat. Hingga kini, banjir masih merendam 114 rumah meliputi 4 RT di Kampung Muara Beloan. ”Hujan bisa berpotensi kembali banjir melanda Muara Beloan. Karena Muara Beloan yang terapit Sungai Mahakam dan Sungai Kedang Pahu. Di samping itu, ada dua danau besar dan 5 danau kecil. Sumber air sudah terisi di danau tersebut. Tinggal menunggu hujan deras bisa menambah volume banjir di Muara Beloan.
Demikian pula soal ekonomi warga di Muara Beloan, menurut Mauliddin Said, banjir tidak semuanya dapat menikmati panen ikan. Di samping itu akses warga juga terkendala. Sehingga pemerintah perlu memberikan bantuan sembako, perlengkapan warga korban banjir. (ton/KP)












