Bukan Janji tapi Bukti, PT TSA/FKP Beri Sembako Tiga Bersaudara di Rembayan

KUTAI BARAT, KALTIM PERS — Di tengah kondisi ekonomi yang sulit, kepedulian terhadap sesama menjadi penopang bagi warga yang membutuhkan. Manajemen PT Teguh Sinar Abadi/PT Firman Ketaun Perkasa (TSA/FKP), perusahaan di bawah naungan PT Bayan Resources Tbk, menyalurkan bantuan sembako kepada tiga bersaudara, Yanah, Hayani, dan Muhammad Abadi, di RT 2 Kampung Rembayan, Kecamatan Mook Manaar Bulatn, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, Sabtu (24/10/2026).
Bantuan tersebut diserahkan oleh Yaret, yang mewakili manajemen perusahaan, dan diterima langsung oleh ketiga anak almarhum Zakaria tersebut.
“Kami selaku manajemen memberikan bantuan sembako ini. Semoga bantuan ini bermanfaat bagi mereka,” kata Yaret.
Muhammad Abadi, anak bungsu dari delapan bersaudara, mengaku tidak menyangka akan menerima bantuan sembako dari PT TSA/FKP.
“Kami hanya bisa mengucapkan ribuan terima kasih atas bantuan ini,” ujar Abadi.
Ia juga mendoakan agar manajemen dan perusahaan senantiasa diberikan kesuksesan, kesehatan, serta kelancaran dalam menjalankan kegiatan operasional. Ia berharap bantuan tersebut menjadi amal kebaikan bagi semua pihak yang terlibat.
Kepala Kampung Muara Beloan, Rudy Suhartono, turut menyampaikan apresiasi atas bantuan tersebut. Menurut dia, ketiga bersaudara itu membutuhkan perhatian karena memiliki kondisi fisik khusus dan selama ini mengandalkan bantuan warga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Saya juga turut prihatin. Makanya, saya sempat membicarakan hal ini kepada manajemen PT TSA/FKP agar bisa turut membantu,” kata Rudy.
Rudy sebelumnya mengunjungi ketiga bersaudara tersebut di kediaman mereka di Kampung Rembayan pada Jumat (9/10/2026). Kunjungan itu dilakukan setelah ia mengetahui kondisi kehidupan mereka yang membutuhkan dukungan berbagai pihak.
Rudy mengatakan, upaya meminta bantuan kepada pihak lain masih terus dilakukan. Ia menyebut telah menghubungi manajemen PT Manaar Bulatn Lestari (MBL), tetapi hingga Sabtu (24/10/2026), belum menerima tanggapan. Adapun Wakil Bupati Kutai Barat Nanang Adriani disebut baru menyampaikan janji untuk memperhatikan kondisi ketiga bersaudara tersebut.
“Semoga saja turut peduli memberikan bantuan serupa,” ujar Rudy.
Selain mengupayakan bantuan kebutuhan pokok, Rudy berencana membantu ketiganya agar dapat memiliki sumber penghasilan sendiri. Ia tengah mempertimbangkan jenis usaha yang sesuai agar mereka bisa lebih mandiri.
“Nanti jenis usaha yang dimaksud akan diketahui publik. Diupayakan secepatnya,” katanya.
Sebelumnya diberitakan, Yanah, Hayani, dan Muhammad Abadi tinggal di rumah kayu di RT 2 Kampung Rembayan. Mereka merupakan tiga dari delapan anak pasangan almarhum Zakaria dan almarhumah Fatimah. Ketiganya memiliki kondisi fisik khusus dengan tinggi badan sekitar satu meter lebih, sedangkan lima saudara mereka lainnya tidak mengalami kondisi serupa.
Yanah, anak keempat, lahir pada 1959 dan kini berusia 67 tahun. Adiknya, Hayani, lahir pada 1976 dan berusia 50 tahun. Sementara itu, Muhammad Abadi, anak bungsu, lahir pada 1978 dan berusia 48 tahun.
Hayani telah menjanda setelah suaminya meninggal dunia. Muhammad Abadi sudah menikah, tetapi istrinya tinggal di Samarinda. Ia sendiri menetap di Kampung Rembayan bersama kedua saudarinya.
Di tengah keterbatasan, Muhammad masih bekerja sebagai anggota perlindungan masyarakat (Linmas) Kampung Rembayan. Ia menempati rumah baru yang diperoleh melalui program bantuan rumah tidak layak huni sekitar dua tahun lalu. Rumah tersebut berada di belakang rumah lama yang dihuni Yanah dan Hayani.
Sementara itu, kedua saudarinya tidak lagi memiliki pekerjaan tetap. Mereka pernah bekerja membantu pekerjaan rumah tangga di sebuah rumah makan, tetapi kini tidak lagi bekerja di tempat tersebut.
Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ketiganya mengandalkan bantuan sembako dan dukungan dari warga maupun pihak lain.
“Kami bersyukur ada bantuan sembako dan lainnya dari warga dan pihak lainnya,” kata Yanah.
Di usia senjanya, Yanah juga menjalani kehidupan tanpa pasangan. Ia mengaku merasa lebih nyaman hidup sendiri dan tidak ingin terburu-buru menikah. (*/KP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *