Sehari Sebelum Berpulang, Oji Masih Bergotong Royong untuk Terangnya Muara Beloan

Almarhum ( kanan, mengenakan kaos hitam dan sepatu bot) yang turut serta bersama Kepala Kampung Muara Beloan Rudy Suhartono dan sejumlah warga bergotong royong membersih pohon bambu untuk jaringan listrik PLN.

Sosok Pendiam dan Murah Senyum Itu Pergi, Menyisakan Kenangan bagi Warga

SENDAWAR, KALTIM PERS — Pepohonan dan semak belukar di sepanjang Jalan RA Kartini RT 4, Kampung Muara Beloan, Kecamatan Muara Pahu, Kutai Barat, perlahan mulai terbuka. Warga bergotong royong membersihkan jalur yang akan dilewati jaringan listrik PLN. Berikut tulisan oleh Rudy Suhartono, yang turut berdukacita atas meninggalnya Oji Johansyah, setelah menjalani operasi di RSUD Aji Muhammad Parikesit, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Jumat (25/9/2026) pagi.

Di antara mereka yang turut bergotong royong, ada Oji Johansyah. Lelaki 50 tahun itu ikut menebas semak dan membantu membersihkan pepohonan bersama Kepala Kampung Muara Beloan Rudy Suhartono, Ketua BPK Herpandi, dan warga lainnya. Bahkan bersama Rudy Suhartono dan almarhum sempat makan siang di salah satu rumah makan warga RT 1, usai bergotong royong tersebut.

Tak seorang pun menduga, kebersamaan dalam gotong royong itu menjadi salah satu kenangan terakhir warga bersama Oji.

Sehari kemudian, Jumat (25/9/2026), kabar duka menyelimuti Muara Beloan. Oji berpulang setelah menjalani perawatan medis. Kepergiannya terasa begitu cepat bagi keluarga dan warga yang sehari sebelumnya masih melihatnya beraktivitas seperti biasa.

Oji lahir di Muara Beloan pada 25 Mei 1976. Sebagian besar hidupnya tak pernah jauh dari sungai dan kehidupan nelayan. Ia sehari-hari menjadi pedagang pengumpul ikan hasil tangkapan warga.

Bagi nelayan Muara Beloan, Oji bukan sekadar orang yang membeli ikan. Kehadirannya menjadi bagian dari mata rantai kehidupan masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari sungai dan perairan sekitar kampung.

Ia bukan sosok yang banyak bicara. Warga lebih mengenalnya melalui senyum, sapaan, dan kesediaannya turun tangan ketika kampung membutuhkan tenaga.

Sore Terakhir

Selepas bergotong royong, kehidupan berjalan seperti hari-hari biasa. Oji kembali menjalani pekerjaannya.

Sore itu, ia masih mengantar ikan kepada tengkulak. Sekitar pukul 18.10 WITA, Oji terlihat melintas menggunakan sepeda motor di Jalan Saka Telu RT 1 atau di depan es jos Jarkasih, hanya puluhan meter dari rumahnya.

Ia melewati sebuah warung tempat sejumlah warga tengah berbincang. Tak ada tanda bahwa sapaan dan perjumpaan sederhana sore itu akan menjadi salah satu pertemuan terakhir. Almarhum sempat memberikan keterangan habis mengantar ikan kepada Kepala Kampung Muara Beloan Rudy Suhartono dan tokoh masyarakat Jarhani.

Menjelang malam, suasana berubah.

Keluarga menemukan Oji dalam kondisi tidak sadarkan diri di dalam rumah, saat bersama cucunya. Tenaga kesehatan kampung datang melakukan pemeriksaan. Setelah berkoordinasi dengan keluarga, Oji kemudian dibawa menuju IGD RSUD Harapan Insan Sendawar. Alhasil pemeriksaan medis, almarhum tekanan tinggi sempat 200. Kemudian indikasi gangguan jantung.

Keluarga terus berharap kondisinya membaik.

Namun, menurut keterangan keluarga, kondisi Oji belum menunjukkan perkembangan yang diharapkan. Ia kemudian dirujuk untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut dirujuk ke RSUD AM Parikesit, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Setelah menjalani tindakan medis, kondisinya memburuk. Pada Jumat, 25 September 2026 pagi, Oji mengembuskan napas terakhir.

Kabar itu cepat menyebar ke Muara Beloan.

Orang yang beberapa waktu sebelumnya masih terlihat mengendarai sepeda motor, mengantar ikan, dan ikut membersihkan jalur listrik, kini telah pergi untuk selamanya.

Gotong Royong Terakhir

Bagi Kepala Kampung Muara Beloan Rudy Suhartono, ada satu kenangan yang sulit dilupakan: gotong royong terakhir Oji.

Jaringan PLN yang tengah dipersiapkan merupakan sesuatu yang telah lama dinantikan warga. Kehadirannya diharapkan membawa perubahan bagi masyarakat Muara Beloan yang selama ini mengandalkan sumber listrik terbatas.

Oji ikut mengambil bagian dalam ikhtiar kecil menuju perubahan itu.

“Kami sangat kehilangan. Almarhum orangnya baik, murah senyum dan mudah menyapa. Beliau tidak banyak bicara, tetapi ketika ada kegiatan gotong royong dan pembangunan kampung, beliau ikut turun membantu. Terakhir beliau masih bersama kami membersihkan jalur untuk pembangunan jaringan listrik PLN,” tutur Rudy.

Bagi Rudy, kepedulian tidak selalu harus disampaikan dengan banyak kata. Oji memperlihatkannya dengan hadir dan bekerja bersama warga.

Ketika semak perlu dibersihkan, ia ikut membersihkan. Ketika pepohonan perlu dipangkas agar jaringan listrik dapat dibangun, ia ikut turun tangan.

Kini, jalur yang pernah dibersihkan Oji akan tetap menjadi bagian dari pembangunan listrik di Muara Beloan.

Namun, orang yang ikut membersihkannya tak lagi berada di antara warga.

Pulang ke Kampung Halaman

Jenazah Oji dibawa menggunakan ambulans dari Tenggarong menuju Muara Beloan. Kampung tempat ia lahir, tumbuh, mencari nafkah, dan membesarkan keluarganya menjadi tempat perjalanan terakhirnya.

Almarhum meninggalkan seorang istri dan dua anak. Rencananya, Oji dimakamkan di Kampung Muara Beloan pada Sabtu (26/9/2026).

Pemerintah kampung bersama warga menyampaikan belasungkawa kepada keluarga yang ditinggalkan.

“Atas nama Pemerintah Kampung Muara Beloan dan seluruh masyarakat, kami menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya. Semoga amal ibadah almarhum diterima Allah SWT, segala khilafnya diampuni dan diberikan tempat terbaik di sisi-Nya. Semoga istri, anak-anak serta seluruh keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan. Aamiin,” kata Rudy.

Usia memang menyimpan rahasianya sendiri.

Bagi warga Muara Beloan, Oji pergi dengan meninggalkan kenangan sederhana: seorang pedagang ikan yang pendiam, murah senyum, dan bersedia hadir ketika kampung membutuhkan tenaganya.

Kelak, ketika jaringan PLN menyala dan menerangi rumah-rumah di Muara Beloan, ada jejak kecil Oji Johansyah di sepanjang jalurnya—jejak dari gotong royong terakhir sebelum ia berpulang.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Selamat jalan, Oji Johansyah. (rud/KP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *