Meski Kendaraan Listrik Bertambah, Konsumsi BBM Diperkirakan Masih Tinggi

Kendaraan listrik mulai banyak digemari masyarakat.

JAKARTA, KALTIM PERS — Pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia belum mampu menggeser dominasi kendaraan berbahan bakar minyak (BBM). Hal itu tercermin dari kuota penyaluran Pertalite pada 2025 yang masih mencapai sekitar 31,23 juta kiloliter (KL), meski populasi kendaraan listrik terus meningkat dari tahun ke tahun.

Pemerintah menetapkan kuota Pertalite atau Jenis Bensin Khusus Penugasan (JBKP) tahun 2025 sebesar 31.230.017 KL. Jumlah tersebut memang sedikit lebih rendah dibandingkan kuota tahun 2024 yang mencapai 31,7 juta KL. Selain itu, kuota minyak solar bersubsidi (JBT) ditetapkan sebesar 18,8 juta KL, sedangkan minyak tanah sebanyak 525.000 KL.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah kendaraan bermotor di Indonesia pada 2025 mencapai 172.938.093 unit atau naik sekitar 3,89 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sepeda motor masih mendominasi dengan 145.247.420 unit, disusul mobil penumpang 20.907.972 unit, mobil barang 6.474.088 unit, dan bus 308.613 unit.

Di sisi lain, data Sertifikat Registrasi Uji Tipe (SRUT) Kementerian Perhubungan mencatat populasi kendaraan listrik hingga akhir 2025 mencapai 342.118 unit. Jumlah tersebut terdiri atas 229.820 sepeda motor listrik, 110.524 mobil penumpang listrik, serta sekitar 1.774 kendaraan listrik lainnya seperti bus, mobil barang, dan roda tiga.

Dengan jumlah tersebut, kendaraan listrik baru menyumbang sekitar 0,2 persen dari total populasi kendaraan bermotor nasional. Kondisi itu membuat pengaruhnya terhadap penurunan konsumsi BBM masih relatif kecil.

Pengamat ekonomi energi, menilai konsumsi BBM masih akan tetap tinggi dalam beberapa tahun ke depan karena laju pertumbuhan kendaraan konvensional jauh lebih besar dibandingkan kendaraan listrik.

Penurunan kuota Pertalite tidak bisa langsung diartikan sebagai dampak meningkatnya penggunaan kendaraan listrik. Faktor lain seperti efisiensi distribusi BBM, kebijakan subsidi, pengendalian konsumsi, hingga perubahan pola mobilitas masyarakat juga berpengaruh terhadap besaran kuota yang ditetapkan pemerintah.

Kendaraan listrik memang terus bertambah, tetapi porsinya masih sangat kecil dibandingkan total kendaraan bermotor. Karena itu, konsumsi BBM secara nasional belum akan turun secara signifikan.

Penggunaan BBM masih memiliki sejumlah keunggulan yang membuat masyarakat tetap mengandalkannya. Di antaranya adalah jaringan stasiun pengisian bahan bakar yang sudah tersebar luas hingga pelosok daerah, waktu pengisian yang hanya membutuhkan beberapa menit, serta kemampuan kendaraan menempuh jarak jauh tanpa perlu berhenti lama untuk mengisi energi.

Selain itu, kendaraan berbahan bakar minyak dinilai masih lebih praktis bagi masyarakat yang tinggal di daerah dengan keterbatasan infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik. Di sejumlah wilayah, SPBU jauh lebih mudah dijangkau dibandingkan stasiun pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU).

Meski demikian, Fahmy menilai kendaraan listrik tetap memiliki keunggulan dari sisi efisiensi energi dan biaya operasional yang lebih rendah serta menghasilkan emisi yang lebih kecil. Karena itu, pemerintah perlu terus mempercepat pembangunan infrastruktur SPKLU, memberikan insentif, dan memperluas ekosistem kendaraan listrik agar transisi energi dapat berlangsung lebih cepat.

Dalam jangka panjang, peningkatan populasi kendaraan listrik diperkirakan akan mulai memengaruhi konsumsi BBM apabila jumlahnya telah mencapai jutaan unit dan diiringi pemerataan infrastruktur pengisian daya di seluruh Indonesia.(ton/KP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *