Kemarau Panjang, Warga Muara Ohong Bersihkan Alur Perairan untuk Jaga Distribusi Ikan

SENDAWAR, KALTIM PERS— Kemarau yang dirasakan warga Kampung Muara Ohong, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, tahun ini disebut lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Kondisi tersebut berdampak pada alur perairan yang menjadi jalur utama aktivitas masyarakat, terutama nelayan. Warga bersama aparat kampung pun bergotong royong membersihkan alur perairan menuju Jantur, Kecamatan Muara Muntai, Kabupaten Kutai Kartanegara, hingga Tanjung Jone, Kutai Barat.

Kegiatan yang berlangsung pada Rabu, 12 Agustus 2026 itu merupakan agenda gotong royong yang rutin dilakukan masyarakat setiap tahun.

Kepala Kampung Muara Ohong Aliansyah mengatakan pembersihan dilakukan untuk menjaga akses transportasi air sekaligus mendukung aktivitas perikanan masyarakat.

“Gotong royong dilakukan untuk membersihkan alur perairan dari Muara Ohong ke arah Jantur dan Tanjung Jone,” kata Aliansyah.

Sedikitnya empat kelompok atau tim yang terdiri dari aparat kampung dan masyarakat terlibat dalam kegiatan tersebut. Mereka membersihkan bagian alur yang dinilai menghambat perjalanan perahu.

Menurut Aliansyah, panjang jalur yang relatif nyaman dilalui menuju Tanjung Jone mencapai sekitar 4 kilometer. Namun, dalam kegiatan kali ini baru sekitar 2 kilometer bagian alur utama yang dibersihkan.

Adapun bagian luar alur sepanjang sekitar 2 kilometer masih membutuhkan pembersihan lanjutan karena terdapat material dan tumbuhan yang menghambat perjalanan.

Kemarau Bikin Alur Semakin Dangkal

Selain tumbuhan dan material yang mengganggu, kondisi kemarau menyebabkan sejumlah bagian alur menjadi dangkal.

Jalur yang mengarah ke Jantur, Tanjung Isuy, Tanjung Jone hingga Danau Jempang memiliki lebar sekitar 3-4 meter. Namun, jalur navigasi yang dapat digunakan perahu hanya sekitar 3 meter.

Di sejumlah titik, kedalaman air bahkan hanya sekitar 0,5 meter.

Kondisi tersebut membuat perahu kecil masih dapat melintas. Namun, kapasitas muatan yang dapat dibawa menjadi terbatas.

“Kalau dangkal seperti sekarang, perahu kecil masih bisa lewat. Tetapi muatan juga harus menyesuaikan kondisi alur,” ujar Aliansyah.

Kondisi serupa terlihat di tepian Danau Jempang. Sejumlah bagian tepian danau mulai mengering akibat surutnya air.

Kontur tepian danau yang relatif tinggi juga membuat pemanfaatan lahan untuk kegiatan pertanian belum berkembang secara optimal.

Produksi Ikan Bisa Capai 10 Ton

Bagi masyarakat Muara Ohong, kondisi alur perairan memiliki kaitan langsung dengan aktivitas ekonomi. Sebagian masyarakat menggantungkan pendapatan dari hasil perikanan sungai dan danau.

Produksi ikan dalam kondisi normal berkisar 2-5 ton per bulan. Pada musim puncak, produksi dapat meningkat menjadi 5-6 ton per bulan.

Bahkan, dalam kondisi tertentu, hasil tangkapan disebut dapat mendekati 10 ton per bulan.

Jika produksi mencapai 10 ton dan seluruhnya terjual dengan harga rata-rata Rp10.000 per kilogram, nilai hasil produksi dapat mencapai sekitar Rp100 juta.

Hasil perikanan tersebut dipasarkan dalam berbagai bentuk, mulai dari ikan asin, ikan hidup, ikan es, nila hingga sejumlah jenis ikan lokal.

Tidak hanya dipasarkan di Kutai Barat, hasil perikanan warga juga dikirim ke Samarinda, Balikpapan, Barong dan sejumlah daerah di Pulau Jawa.

Pengangkutan dilakukan menggunakan kendaraan pikap maupun angkutan yang disiapkan oleh pengusaha atau pembeli.

Harga sejumlah hasil perikanan juga bergantung pada kondisi pasokan. Produk lokal yang disebut warga sebagai “jukut”, misalnya, berada pada kisaran Rp5.000-Rp6.000 hingga Rp10.000 per kilogram.

Ketika pasokan terbatas, harga jual dapat berada di sekitar Rp8.000 per kilogram.

Alur Perairan Jadi Urat Nadi Ekonomi

Sekitar 260 rumah tangga dengan total penduduk sekitar 700 jiwa disebut berkaitan dengan aktivitas perikanan di kawasan tersebut.

Bagi warga, keberadaan alur perairan yang dapat dilalui menjadi faktor penting. Jalur tersebut digunakan mulai dari aktivitas menangkap ikan hingga mengangkut hasil tangkapan untuk dipasarkan ke luar daerah.

Karena itu, Aliansyah menilai pembersihan alur tidak cukup dilakukan sekali. Bagian luar jalur utama dan sejumlah titik dangkal masih memerlukan pembersihan lanjutan.

“Kami berharap pembersihan dapat dilanjutkan, terutama di bagian luar dan titik-titik yang dangkal,” katanya.

Pemeliharaan alur, kata dia, diperlukan agar aktivitas transportasi perairan tetap berjalan dan hasil perikanan masyarakat dapat dikirim tepat waktu.

Bagi masyarakat Muara Ohong, alur perairan bukan hanya jalur transportasi. Di tengah kemarau yang semakin terasa, jalur tersebut menjadi penghubung penting antara aktivitas perikanan masyarakat dengan pasar di berbagai daerah.(rud/KP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *