KUTAI BARAT, KALTIM PERS— Kondisi air Sungai Kedang Pahu di wilayah Kampung Damai Seberang, Kecamatan Damai, Kabupaten Kutai Barat, menjadi perhatian warga. Perubahan kondisi air sungai yang terjadi belakangan ini menimbulkan kekhawatiran masyarakat karena sungai masih dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari-hari.
Kepala Kampung Damai Seberang, Andreas Nemi, mengatakan, wilayah permukiman di sekitar sungai dihuni sekitar 100 kepala keluarga (KK) dengan jumlah penduduk lebih dari 300 jiwa. “Dari jumlah tersebut, diperkirakan sekitar 50 persen warga masih menggunakan air sungai untuk mandi dan aktivitas lainnya,” kata Andreas.
Andreas menyampaikan, masyarakat menduga perubahan kondisi air tersebut berkaitan dengan aktivitas pertambangan di sekitar aliran sungai. Salah satu perusahaan yang disebut warga adalah diduga dari kawasan tambang dengan jety di Kampung Rembayan, Kecamatan Mook Manaar Bulatn, Kabupaten Kutai Barat. Meski demikian, dugaan tersebut belum dapat dipastikan dan masih memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.
Menurut Andreas, hingga saat ini belum ditemukan laporan ikan mati akibat perubahan kondisi air. Namun, masyarakat tetap khawatir karena sungai masih menjadi salah satu sumber kebutuhan warga, termasuk untuk aktivitas mandi dan keperluan ternak.
Ia meminta Pemerintah Kabupaten Kutai Barat melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) segera turun ke lapangan untuk memeriksa kondisi sungai dan mengambil sampel air guna dilakukan pengujian laboratorium. “Pemeriksaan tersebut diperlukan untuk mengetahui kualitas air sekaligus memastikan ada atau tidaknya indikasi pencemaran,” tegasnya.
Andreas berharap, apabila hasil pemeriksaan membuktikan adanya pencemaran yang bersumber dari aktivitas perusahaan, pihak yang bertanggung jawab dapat segera melakukan penanganan dan pemulihan lingkungan. Perlindungan terhadap Sungai Kedang Pahu dinilai penting karena menyangkut kebutuhan hidup dan keselamatan masyarakat yang bermukim di sepanjang aliran sungai.(pol/KP)












