Catatan Rizal Effendi
SAYA baru tahu Ririn Ekawati kelahiran Balikpapan. Dia bersama suaminya, Ibnu Jamil menjadi salah satu bintang tamu Bayan Run 2026. Pasangan selebriti ini juga peserta lari. Ririn ikut di kategori 5K dengan nomor dada H4635, sedang Ibnu di kategori 10K dengan nomor dada B2459.
Sehari sebelum pelaksanaan, Ririn dan Ibnu sudah melakukan pemanasan (shake out run) di kawasan Pantai Melawai, tak jauh dari lapangan Merdeka yang ditetapkan sebagai garis start. “Sekalian mau menikmati suasana Balikpapan,” ujarnya.
Sayang wilayah Kalimantan termasuk Balikpapan pada saat ini diliputi asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Jadi kualitas udara di kota ini tidak terlalu sehat. “Tentu ini menjadi pengalaman dan tantangan tersendiri bagi para pelari,” jelasnya.
Meski bukan juara, tapi Ririn dan Ibnu sukses mencapai garis finish. Keduanya mendapat aplaus dari peserta lain. “Hebat, ternyata mereka juga benar-benar runner,” komentar peserta lain.
Ririn dan Ibnu mengaku senang mendapat kehormatan diundang panitia Bayan Run. “Sudah lama kami ingin ke Balikpapan, akhirnya kesampaian di ajang Bayan Run 2026,” kata Ibnu penuh semangat.
Bayan Run 2026 yang diikuti sekitar 6.700 pelari dilepas oleh mantan Kapolri Jend Pol (Purn) Timur Pradopo, yang sekarang duduk sebagai Komisaris Independen PT Bayan Resources Tbk. Seorang staf Bayan menyatakan keberatan titel “Bayan Run 2026” dikaitkan dengan nama lain. “Bayan Run itu sudah baku dan sudah 5 kali digelar, jadi tak ada kaitan dengan peristiwa akuisisi saham Bayan pada saat ini,” jelasnya.
Sementara itu, Ririn Ekawati mengaku sangat bahagia bisa datang ke Balikpapan. “Aku happy banget, excited, karena ini kampung halamanku,” katanya dengan wajah berbunga-bunga ketika ditanya awak media.
Ririn dilahirkan di Balikpapan, 11 November 1982. Jadi usianya sekarang 43 tahun. Sang ayah bernama Badarudin, sedangkan ibunya bernama Samsidar Zaid. Tapi sang ibu sudah meninggal dunia awal Desember 2020 terkena virus Covid-19.
Saya tidak mendapatkan penjelasan di mana keluarga Badarudin tinggal. Tapi menurut Ririn, dia sekolah di SDN 005, terus ke SMP Muhamadiyah dan lanjut ke SMA Kartika 1. Baru kemudian dia hijrah ke Jakarta bersama adiknya, Rini Yulianti. Lalu sama-sama merintis karier sebagai aktris dan model.
Karier awal Ririn ditandai ketika dia menjadi finalis Wajah Femina tahun 2000. Kemudia dikenal luas ketika membintangi sinetron Muslimah (2008-2009) serta berbagai judul film layar lebar di antaranya Roman Picisan, Kisah 3 Titik dan Di Balik 98.
Selain itu, Ririn juga memiliki usaha di bidang kuliner. Dia pemilik Kopi Lain Hati yang dirintis sejak 2018 dan juga dikenal sebagai pemilik toko bunga Lore Florist.
Perjalanan kehidupan rumah tangganya cukup menarik. Dia pernah menikah tiga kali. Pada tahun 2001 Ririn menikah dengan Edwin Abeng dan dikarunia seorang putri bernama Jasmine Salsabila Abeng. Sayang 7 tahun kemudian mereka berpisah.
Lama dia hidup sendiri. Pada tahun 2015 Ririn menikah yang kedua kalinya dengan Ferry Wijaya. Setahun kemudian mereka dikarunia seorang putri bernama Abigai Cattleya Putri. Dalam keadaan penuh kebahagiaan, takdir menjemput suaminya. Ferry meninggal dunia pada tahun 2017 karena mengidap leukemia.
Empat tahun kemudian Ririn mendapat jodoh kembali. Dia menikah dengan Ibnu Jamil, yang dikenal sebagai aktor, presenter olahraga (sportcaster) dan pengusaha kuliner juga. Ini perkawinan kedua bagi Ibnu Jamil.
JAJAN STEIK DAN PISANG GAPIT
Di sela-sela mengikuti Bayan Run 2026, Ibnu Jamil dan Ririn Ekawati sempat berburu kuliner di beberapa tempat di Balikpapan. Dia tahu sejumlah makanan di Kota Minyak (meski antri BBM) ini bisa memuaskan seleranya. Bisa jadi juga dia punya rencana mau membuka cabang di kota ini.
Saya lihat Ibnu dan Ririn sempat singgah di The anbys Steak n Grill di Taman Tulip Balikpapan Baru (BB). Tak jauh dari Kantor Bayan. Ini langganan saya dan cucu saya, Defa dan Dafin. Pengelolanya Illiad, putra keluarga Amries Salon. Berdiri sejak tahun 2021. Anbys Steak pernah menjadi menu Presiden Jokowi ketika glamping di Ibu Kota Nusantara (IKN)
Sekarang di BB juga buka beberapa restoran steik baru di antaranya JJ Steak. Ada juga Big Fat Steak Tenda di depan RS Zainal Abidin Balikpapan Baru. Rumah sakit itu baru direnovasi. Kabarnya dibeli oleh keluarga Gubernur Rudy Mas’ud, makanya jalan di kawasan itu langsung dipermulus lewat Bankeu APBD Kaltim. Hanya saja sejumlah penjual kaki lima di situ termasuk ibu penjual gado-gado langsung disapu bersih oleh Satpol PP.
Mereka juga sempat makan siang di Warung Haur Gading belakang Pasar Inpres Kebun Sayur. Ada soto Banjar, patin bakar dan udang galah Sungai Mahakam. Juga sempat ngopi di La Gramma BB.
Yang menarik Ibnu dan Ririn juga kuliner pisang gapit di Kebun Sayur. Wah saya lihat mereka menikmati sekali. Pisang gapit Balikpapan memang punya cita rasa tersediri. Ada juga yang di Gunung Guntur dan Jembatan Mariati.
Di Makassar, pisang gapit disebut pisang epe’. Tapi pisang gapit adalah jajanan khas Kaltim terutama populer di Samarinda dan Balikpapan. Gapit berasal dari bahasa Banjar dan Kutai, yang berarti jepit. Sebab, cara memasak pisang gapit ditandai dengan memanggang pisang sampai setengah matang lalu dijepit hingga pipih.
Sebelum disajikan pisang yang sudah dijepit itu dipotong-potong dengan gunting. Lalu disiram dengan kuah atau saus kinca berbahan dasar santan, gula merah atau gula aren serta larutan tepung maizena. Biasanya juga dikasih daun pandan biar harum dan gurih.
Pisang gapit Kalimantan sudah pasti menggunakan pisang kepok atau pisang manurun, ujar orang Banjar. Pisang kepok jarang ada di Pulau Jawa. Sentra produksi pisang kepok terbesar di Kaltim ada di Kabupaten Kutai Timur.
Di kabupaten itu, ada sekitar seribu hektare lebih lahan perkebunan pisang kepok. Petani di sana menamai pisang kepok Kutim sebagai Pisang Kepok Grecek. Artinya pisang kepok enak. Grecek adalah bahasa Kutai yang artinya menarik. Makna di makanan bisa diartikan enak dan nyaman.
Sekitar 1.500 ton pisang kepok grecek tiap bulan diserap oleh pasar lokal di Kaltim termasuk Samarinda dan Balikpapan. Lalu 300 ton tiap bulan dikirim untuk memenuhi kebutuhan domestik di luar Kaltim termasuk Jakarta. Kalau ada warung di ibu kota jualan Pisang Kalimantan, kemungkinan besar itu produksi petani Kutim.
Siapa tahu Ibnu dan Ririn mau jualan pisang gapit di Jakarta. Dulu putri saya waktu kuliah di Yogyakarta sempat jualan pisang gapit. Saya kirim pisangnya dari Balikpapan. Pisang gapit “Ibnu dan Ririn” pasti enak jepitnya.(*)












