Dari Ismail Thomas ke Frederick Edwin, Penghormatan pada Pendahulu Warnai Estafet Kepemimpinan Kubar

Bupati Frederick Edwin (dua kiri) didampingi Ketua TP PKK Kubar Maria Christina Mozes Edwin bersama Ismail Thomas dan Lucia Mayo usai pemotongan tumpeng pada Acara Syukuran Peringatan HUT ke-81 Republik Indonesia dan HKG PKK ke-54 Tahun 2026 di Alun-Alun Itho, Kamis (20/8/2026) malam. (FOTO:LUKMAN HAKIM)

SENDAWAR, KALTIM PERS – Ada pesan tentang sejarah dan kesinambungan kepemimpinan pada Acara Syukuran Dalam Rangka HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia dan Puncak Hari Kesatuan Gerak (HKG) PKK ke-54 Kabupaten Kutai Barat, Kamis (20/8/2026) malam di Alun-Alun Itho.‎‎

Di tengah suasana perayaan, Bupati Kutai Barat Frederick Edwin memberi tempat terhormat kepada para pemimpin yang pernah mengabdikan diri membangun Bumi Tanaa Purai Ngeriman.‎‎

Dalam sambutannya, Frederick secara khusus menyapa dan memberikan penghormatan kepada Bupati dan Wakil Bupati Kutai Barat periode 1999 hingga 2024, serta para Sekretaris Daerah pada periode yang sama.‎‎

Penyebutan para pendahulu itu memberi warna tersendiri pada malam tersebut. Di tengah perjalanan pemerintahan saat ini, sejarah panjang pembangunan Kutai Barat seolah kembali diingatkan bahwa daerah ini dibangun melalui proses panjang dan kontribusi banyak pemimpin dari masa ke masa.

‎‎Salah satu figur penting dalam perjalanan tersebut adalah Ismail Thomas, mantan Bupati Kutai Barat yang pernah memimpin daerah ini selama dua periode.‎‎Kini, estafet kepemimpinan itu berlanjut kepada generasi berikutnya. Frederick Edwin, putra Ismail Thomas, saat ini mengemban amanah sebagai Bupati Kutai Barat.‎‎ Namun momentum Kamis malam tidak sekadar memperlihatkan hubungan antara dua generasi dalam satu keluarga.

Lebih luas dari itu, kehadiran dan penghormatan terhadap para mantan kepala daerah menjadi gambaran kesinambungan sejarah pemerintahan Kabupaten Kutai Barat sejak daerah ini berdiri.‎‎

Dari pemimpin terdahulu hingga pemerintahan hari ini, masing-masing memiliki masa, tantangan, serta jejak pembangunan yang menjadi bagian dari perjalanan Kutai Barat.

‎‎Menghargai yang Terdahulu, Melanjutkan yang Baik‎‎

Bagi Frederick, kepemimpinan saat ini berjalan di atas fondasi yang telah dibangun selama bertahun-tahun oleh para pendahulu.‎‎ Karena itu, memberikan ruang penghormatan kepada mereka menjadi penting di tengah semangat membawa Kutai Barat menuju tahap pembangunan berikutnya.‎‎

Malam syukuran tersebut sekaligus menjadi ruang perjumpaan lintas generasi pemerintahan. Para pemimpin terdahulu, jajaran pemerintah saat ini, DPRD, Forkopimda, organisasi perempuan, dunia usaha hingga berbagai elemen masyarakat hadir dalam satu momentum kebersamaan.‎‎

Penghormatan itu menjadi semakin bermakna karena berlangsung ketika Frederick tengah membawa visi pembangunan “Kutai Barat yang Semakin Sejahtera, Aman, Adil, Merata, dan Beradat”.

Visi tersebut menjadi arah pemerintahan saat ini, namun perjalanan menuju cita-cita itu tidak dilepaskan dari fondasi pembangunan yang diwariskan pemerintahan sebelumnya.‎‎Frederick pun mengingatkan bahwa tantangan pembangunan Kutai Barat ke depan membutuhkan kebersamaan seluruh pihak.

‎‎”Tantangan pembangunan ke depan tidaklah mudah, namun dengan sinergi dan kerja sama yang solid, saya yakin kita mampu membawa Kutai Barat ke arah yang lebih maju dan sejahtera,” ujarnya.‎‎

Ia juga mengajak unsur pemerintah, TNI-Polri, organisasi perempuan, swasta hingga seluruh elemen masyarakat untuk terus merapatkan barisan.‎‎

Jejak Ismail Thomas dalam Sejarah Kubar‎‎

Nama Ismail Thomas tidak dapat dilepaskan dari perjalanan pemerintahan dan pembangunan Kutai Barat. Dua periode kepemimpinannya menjadi bagian dari fase penting pertumbuhan kabupaten di wilayah hulu Mahakam tersebut.‎‎ Kini, ketika Frederick Edwin memegang tampuk pemerintahan, terdapat sebuah perjalanan menarik dalam sejarah politik lokal Kutai Barat estafet kepemimpinan dari seorang ayah kepada anaknya pada periode yang berbeda.‎‎

Meski berada pada zaman, tantangan, dan tuntutan masyarakat yang berbeda, keduanya tercatat menjadi bagian dari rangkaian kepemimpinan Kutai Barat. ‎‎Frederick kini menghadapi tugas untuk membangun rekam jejak pemerintahannya sendiri, sekaligus menjaga kesinambungan pembangunan yang telah diletakkan oleh para kepala daerah terdahulu.‎‎ Karena itu, penghormatan kepada para mantan pemimpin pada malam tersebut memiliki makna lebih dari sekadar rangkaian protokoler.

Ada pesan bahwa perjalanan sebuah daerah tidak dimulai dari satu masa pemerintahan dan tidak berhenti pada satu figur.‎‎ Setiap periode menjadi mata rantai yang menyambungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan Kutai Barat.‎‎

Merawat Sejarah, Menatap Masa Depan‎‎

Malam ramah tamah itu pada akhirnya tidak hanya menjadi penutup rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan HKG PKK ke-54. ‎‎Di balik kemeriahan acara, tersimpan potret bagaimana pemerintahan hari ini memberikan ruang kepada sejarah.‎‎

Frederick Edwin berdiri sebagai Bupati Kutai Barat saat ini, sementara para pemimpin terdahulu menjadi bagian dari perjalanan yang telah mengantarkan daerah tersebut sampai pada titik sekarang. ‎‎Termasuk Ismail Thomas, sosok yang pernah dua periode memimpin Kutai Barat dan kini menyaksikan tongkat kepemimpinan berada di tangan generasi berikutnya.

‎‎Estafet telah berganti. Zaman pun berubah. ‎Tetapi satu hal yang ingin dijaga adalah kesinambungan pengabdian untuk Bumi Tanaa Purai Ngeriman.‎‎ Menghormati mereka yang pernah memimpin, merawat apa yang telah dibangun, sekaligus menghadirkan terobosan baru menjadi tantangan Frederick Edwin dalam menuliskan babak berikutnya sejarah Kabupaten Kutai Barat. (luk)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *