Saat Mahakam Menyusut, Pasir Putih di Benangaq dan Melak Muncul, tetapi Bahaya Mengintai

SENDAWAR, KALTIM PERS — Mahakam sedang memperlihatkan wajah yang berbeda. Dua lokasi tepian Kampung Muara Benangaq, dan Muara Siram, Kelurahan Melak Ilir Kecamatan Melak, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, sungai yang selama ini menjadi jalur transportasi dan tumpuan kehidupan warga perlahan menyusut. Air yang biasanya memenuhi alur sungai kini mundur, meninggalkan hamparan pasir putih di sejumlah bagian.

Bagi sebagian warga, pemandangan itu seperti menemukan ruang baru di tepian Mahakam. Pasir putih yang muncul di seberang permukiman menjadi tempat warga dan pengunjung berdatangan. Mereka menikmati bentangan pasir yang sebelumnya tertutup air, bersantai, dan memandang Mahakam dari sisi yang berbeda.

Namun, di balik pemandangan yang menarik itu, ada cerita lain tentang kemarau panjang 2026.

Sungai menyusut. Alurnya semakin dangkal dan menyempit. Kapal-kapal yang selama ini mengandalkan Mahakam sebagai jalur pergerakan menghadapi kondisi yang tidak mudah.

Bagi masyarakat yang hidup di sepanjang sungai, perubahan itu bukan sekadar perubahan lanskap. Ia menyentuh kehidupan sehari-hari.

Mahakam yang terus surut

Kepala Kampung Muara Benangaq, Mastomo, menyebut kemarau tahun ini sebagai salah satu yang paling berat yang pernah dirasakan masyarakat. Ingatan warga bahkan kembali pada kemarau panjang 1982, sekitar 44 tahun lalu.

Kemarau 2026 ini parah. Hampir sama dengan kemarau 1982 silam,” kata Mastomo.

Ucapan itu menggambarkan bagaimana masyarakat tepian Mahakam membaca perubahan alam melalui pengalaman yang mereka warisi dari masa ke masa.

Ketika hujan tak kunjung turun, air Mahakam terus berkurang. Alur sungai yang menjadi jalur transportasi menjadi lebih dangkal. Pergerakan kapal pun menghadapi tantangan lebih besar. Dampaknya tidak berhenti di sungai.

Distribusi barang melalui jalur sungai ikut berpotensi terganggu. Bagi masyarakat yang bergantung pada angkutan sungai untuk pergerakan barang dan kebutuhan sehari-hari, kondisi tersebut dapat berujung pada persoalan lain, termasuk tekanan terhadap harga kebutuhan pokok.

Di sisi lain, berkurangnya hujan juga membuat warga mencemaskan ketersediaan air untuk kebutuhan sehari-hari.

Kemarau, dengan demikian, tidak hanya membuat udara terasa lebih panas. Ia perlahan mengubah cara warga menjalani kehidupan.

Ketika pasir menjadi tujuan

Namun, Mahakam yang menyusut ternyata juga menghadirkan pemandangan yang berbeda.

Di Muara Benangaq, pasir putih yang muncul di tepian sungai menjadi magnet baru.

Warga berdatangan. Pengunjung pun mulai menjadikan hamparan pasir itu sebagai tempat untuk menikmati suasana.

Bentangan pasir yang sebelumnya berada di bawah permukaan air kini terbuka luas. Tepian Mahakam yang biasanya hanya menjadi bagian dari lanskap sungai berubah menjadi ruang rekreasi.

Fenomena serupa terlihat di Kelurahan Melak Ilir, Kecamatan Melak. Hamparan pasir putih di kawasan Muara Siram ikut ramai didatangi ketika kemarau berlangsung.

Bagi pengunjung, pasir putih menawarkan tempat untuk bersantai. Bagi warga, kedatangan orang-orang dari luar kampung menghadirkan peluang ekonomi tambahan. Kemarau yang membawa kesulitan ternyata sekaligus membuka kesempatan.

Di satu sisi, warga berhadapan dengan sungai yang semakin dangkal dan kebutuhan air yang kian menjadi perhatian. Di sisi lain, surutnya air menciptakan ruang baru yang mendatangkan pengunjung. Tetapi ruang baru itu juga menyimpan risiko.

Ketika sungai tidak lagi sekadar tempat bermain

Pada Jumat (14/8/2026), kabar duka datang dari Muara Benangaq. Seorang remaja berusia 17 tahun, Sinyang, asal Kampung Ngenyan Asa, Kecamatan Barong Tongkok, Kutai Barat, meninggal dunia setelah tenggelam saat berenang di Sungai Mahakam.

Sinyang datang bersama dua temannya, Cristian Heli (15) dan Necky (16), ke Kampung Muara Benangaq. Ketiganya kemudian berenang di Sungai Mahakam.

Berdasarkan keterangan saksi, mereka sempat berenang menuju bagian tengah sungai. Saat hendak kembali ke tepian, Sinyang tidak terlihat kembali ke permukaan.

Kedua temannya berupaya mencari korban dan melaporkan kejadian tersebut kepada aparat kampung.

Warga Muara Benangaq kemudian melakukan pencarian hingga korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia.

Personel Satuan Polisi Air dan Udara (Satpolairud) Polres Kutai Barat yang mendapat laporan langsung menuju lokasi. Tim yang dipimpin Ipda Suyanto melakukan pencarian bersama warga dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Peristiwa itu menjadi pengingat bahwa perubahan wajah Mahakam tidak serta-merta membuat sungai menjadi lebih aman.

Surutnya air memang membuka pasir putih, tetapi karakter sungai tetap menyimpan bahaya yang tidak selalu terlihat dari permukaan.

Imbauan pun sudah disampaikan kepada para pengunjung sebelum kejadian bahkan dilokasi yang sama pada tahun 2025 lalu. Pengunjung wajib mengutamakan keselamatan.

Dua wajah kemarau

Kemarau 2026 akhirnya memperlihatkan dua wajah Mahakam. Wajah pertama adalah kekeringan.

Debit air menyusut. Alur sungai semakin dangkal. Transportasi sungai menghadapi kendala. Distribusi kebutuhan masyarakat berpotensi ikut terganggu. Ketersediaan air menjadi perhatian. Wajah kedua adalah hamparan pasir putih.

Surutnya Mahakam membuka bentangan yang kemudian menjadi ruang berkumpul, tempat menikmati pemandangan, sekaligus peluang ekonomi bagi warga.

Namun, di antara dua wajah itu, ada satu hal yang tidak boleh dilupakan: Mahakam tetaplah sungai.

Ia bukan sekadar latar bagi hamparan pasir putih yang muncul saat kemarau. Ia adalah jalur transportasi, sumber kehidupan, ruang ekonomi, sekaligus lingkungan yang memiliki risiko bagi siapa pun yang beraktivitas di dalamnya.

Bagi masyarakat Muara Benangaq dan Melak Ilir, kemarau tahun ini bukan hanya tentang panas dan kering.

Kemarau mengubah wajah sungai yang selama ini mereka kenal. Ia membuat Mahakam menyusut, memperlihatkan pasir yang sebelumnya tersembunyi, mengubah aktivitas ekonomi, sekaligus menghadirkan tantangan baru.

Dan ketika hamparan pasir putih semakin luas, warga tepian Mahakam tetap menunggu sesuatu yang sederhana, tetapi sangat berarti: hujan. (rud/KP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *