KUTAI BARAT, KALTIM PERS — Pemerintah Kampung Benangaq, Kecamatan Melak, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur, mengimbau pengunjung kawasan wisata pasir putih di seberang kampung alur Sungai Mahakam untuk meningkatkan kewaspadaan. Imbauan keselamatan telah disampaikan sebelum adanya kejadian ini. Bahkan sejak tahun 2025.
Imbauan tersebut disampaikan setelah seorang remaja berusia 17 tahun, Sinyang, warga RT 10 Kampung Ngenyan Asa, Kecamatan Barong Tongkok, tenggelam dan ditemukan sudah tidak bernyawa, di kawasan wisata tersebut. Korban ditemukan oleh warga Muara Benangaq dalam kondisi meninggal dunia pada Jumat (14/8/2026) sekitar pukul 19.00 Wita.
Kepala Kampung Benangaq, Mastomo, mengatakan permukaan air di kawasan tersebut memang terlihat tenang. Namun, terdapat sejumlah titik dengan dasar sungai yang cukup dalam. Kondisi itu dinilai berisiko bagi pengunjung, terutama mereka yang tidak bisa berenang. “Setelah kejadian tersebut, ternyata pengunjung masih banyak yang datang berwisata. Kami tidak bisa berbuat banyak karena antusiasme masyarakat cukup tinggi,” kata Mastomo.
Menurut Mastomo, sehari setelah insiden tersebut, masyarakat masih ramai mengunjungi kawasan pasir yang berada di seberang Kampung Benangaq.
Kawasan pasir itu membentang sekitar 1 kilometer dan menjadi salah satu tujuan wisata masyarakat saat musim kemarau.

Dikunjungi hingga 200 orang sehari
Mastomo mengatakan, kawasan wisata tersebut tidak hanya menjadi tempat rekreasi, tetapi juga menjadi sumber penghasilan bagi masyarakat setempat.
Jumlah pengunjung, kata dia, dapat mencapai 100 hingga 200 orang per hari, terutama saat akhir pekan atau hari-hari ramai.
Aktivitas wisata tersebut turut menggerakkan perekonomian warga. Sekitar 8 warung berada di kawasan seberang dan menggantungkan pendapatan dari kunjungan wisatawan.
Untuk mencapai lokasi wisata, pengunjung harus menyeberangi Sungai Mahakam menggunakan kapal feri. Tarif penyeberangan sekitar Rp 10.000 untuk perjalanan pulang-pergi, sedangkan tarif untuk anak-anak disebut sekitar Rp 5.000.
Pendapatan dari jasa penyeberangan tersebut dikelola sebagai salah satu pendapatan kampung melalui Badan Usaha Milik Kampung (BUMKa).
Diminta gunakan pelampung
Mastomo mengatakan, salah satu usulan yang muncul adalah menyampaikan imbauan keselamatan secara rutin menggunakan pengeras suara di kawasan wisata.
Dengan demikian, pengunjung dapat mengetahui kondisi perairan serta titik-titik yang berpotensi membahayakan.
Pengunjung juga diminta menggunakan pelampung ketika menyeberang maupun saat melakukan aktivitas di sekitar perairan.
Selain itu, pengunjung diimbau tidak berenang seorang diri dan meningkatkan pengawasan terhadap anak-anak.
Masyarakat juga diminta menjauhi kawasan yang berpotensi mengalami longsor atau tanah runtuh.
Menurut Mastomo, keselamatan pengunjung harus menjadi perhatian utama. Namun, upaya meningkatkan keamanan diharapkan tetap berjalan beriringan dengan aktivitas ekonomi warga yang bergantung pada kawasan wisata tersebut.
Sementara itu, Kepala Kampung Ngenyan Asa, Pinus, menyampaikan terima kasih kepada Pemerintah dan masyarakat Kampung Muara Benangaq serta tim SAR yang membantu proses pencarian korban.
Atas nama pemerintah, masyarakat Kampung Ngenyan Asa, dan keluarga korban, Pinus mengapresiasi bantuan seluruh pihak dalam penanganan insiden tersebut.
“Jenazah korban akan dikebumikan besok, atau Senin (17/8/2026),” ujar Pinus.
Pemerintah kampung berharap peningkatan kewaspadaan, penyampaian informasi mengenai titik rawan, serta penggunaan perlengkapan keselamatan dapat mencegah kejadian serupa di kawasan wisata Sungai Mahakam. (rud/KP)












