SENDAWAR, KALTIM PERS – Harapan panjang jemaat GKII Geleo Baru akhirnya memasuki babak baru. Setelah bertahun-tahun menantikan rumah ibadah yang lebih layak. Pembangunan Gedung Gereja Kemah Injil Indonesia (GKII) Geleo Baru resmi dimulai melalui prosesi peletakan batu pertama di Kabupaten Kutai Barat, Rabu (22/7/2026). Bagi masyarakat setempat, momen tersebut bukan sekadar seremoni pembangunan.
Di balik batu pertama yang diletakkan, tersimpan perjalanan panjang aspirasi jemaat yang akhirnya mendapat perhatian dan diwujudkan melalui program pembangunan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Prosesi peletakan batu pertama dilakukan oleh Wakil Ketua I DPRD Provinsi Kalimantan Timur, Ekti Imanuel.
Kehadirannya menjadi simbol keterhubungan antara aspirasi masyarakat dengan kebijakan pembangunan yang lahir melalui fungsi penganggaran dan pengawasan DPRD. Pembangunan gedung gereja itu dilaksanakan oleh Dinas Pekerjaan Umum, Penataan Ruang dan Perumahan Rakyat (PUPR-PERA) Provinsi Kalimantan Timur.
Berdasarkan papan informasi proyek, pembangunan memiliki nilai kontrak sekitar Rp4,91 miliar yang bersumber dari APBD Provinsi Kalimantan Timur Tahun Anggaran 2026 dengan masa pelaksanaan selama 140 hari kalender.Di hadapan jemaat, tokoh agama, dan masyarakat, Ekti Imanuel menegaskan bahwa pembangunan seyogianya lahir dari kebutuhan nyata masyarakat.
Menurutnya, rumah ibadah bukan hanya berfungsi sebagai tempat berdoa, tetapi juga menjadi ruang pembinaan iman, pendidikan karakter, hingga mempererat persaudaraan di tengah keberagaman. “Selama ini banyak aspirasi masyarakat yang kami terima, termasuk kebutuhan akan fasilitas rumah ibadah yang lebih layak. Tugas kami di DPRD adalah memastikan aspirasi itu mendapat perhatian pemerintah dan diwujudkan dalam bentuk program pembangunan,” ujarnya.
Bagi jemaat GKII Geleo Baru, pembangunan tersebut menjadi jawaban atas keterbatasan yang selama ini dihadapi. Bertambahnya jumlah jemaat membuat kebutuhan akan gedung yang lebih representatif semakin mendesak agar pelayanan dan kegiatan pembinaan dapat berjalan lebih optimal. Karena itu, masyarakat berharap proses pembangunan dapat berlangsung sesuai jadwal sehingga fisik gereja baru segera dimanfaatkan sebagai pusat pelayanan rohani, pembinaan generasi muda, hingga berbagai aktivitas sosial kemasyarakatan.
Ekti mengajak masyarakat ikut mengawal jalannya pembangunan agar menghasilkan bangunan yang berkualitas dan dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang. Menurutnya, keberhasilan pembangunan bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah maupun pelaksana proyek, tetapi juga membutuhkan partisipasi masyarakat dalam menjaga hasil pembangunan yang telah diwujudkan.
Apresiasi atas dimulainya pembangunan juga disampaikan Ketua GKII Daerah Mahakam Kutai Barat, Pdt. Damianus Dedi. Ia menilai peletakan batu pertama menjadi bukti bahwa aspirasi masyarakat dapat diwujudkan ketika diperjuangkan secara konsisten.
“Kami menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Bapak Ekti Imanuel. Apa yang kami rasakan hari ini adalah bentuk kepedulian nyata seorang wakil rakyat. Aspirasi jemaat yang selama ini kami sampaikan tidak berhenti sebagai usulan, tetapi benar-benar diperjuangkan hingga terealisasi melalui pembangunan gereja ini,” katanya.
Menurut Damianus, selama ini Ekti Imanuel tidak hanya hadir dalam kegiatan seremonial, tetapi juga menunjukkan komitmen mengawal berbagai kebutuhan masyarakat di daerah pemilihannya. “Beliau membuktikan bahwa menjadi anggota DPRD bukan sekadar duduk di Karang Paci, tetapi hadir untuk memastikan aspirasi masyarakat dapat diwujudkan. Kami percaya gedung gereja ini nantinya bukan hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga pusat pembinaan iman, pendidikan karakter generasi muda, dan penguatan persaudaraan di tengah masyarakat,” tuturnya.
Ia berharap kolaborasi antara masyarakat, pemerintah, dan DPRD Kalimantan Timur terus terjalin sehingga semakin banyak kebutuhan masyarakat Kutai Barat yang dapat diwujudkan melalui pembangunan yang berpihak pada kepentingan rakyat. Bagi jemaat GKII Geleo Baru, peletakan batu pertama itu bukan hanya menjadi awal berdirinya sebuah bangunan. Lebih dari itu, momen tersebut menjadi penanda bahwa aspirasi masyarakat yang diperjuangkan melalui jalur demokrasi dapat berujung pada pembangunan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh warga. (man/KP)












