Menembus Riam Mahulu, Menyusuri Denyut Kehidupan Banyak Sudah “Memakan Korban”

Deru derasnya air di Riam di Kabupaten Mahakam Ulu. Tidak saja bukti kerasnya lintasan yang sudah banyak korban. Tapi tersirat jadikan objek wisata.

Gemuruh air terdengar lebih dulu sebelum riam itu terlihat. Dari kejauhan, suara sungai yang semula tenang berubah menjadi dentuman yang memantul di dinding hutan tropis. Longboat yang melaju dari hulu mulai memperlambat kecepatan. Pengemudi berdiri, matanya menyapu permukaan air, mencari celah di antara batu-batu besar yang sebagian tampak, sebagian lagi bersembunyi di bawah arus.

Di Mahakam Ulu, Kalimantan Timur, perjalanan tak pernah semata soal jarak. Sungai adalah jalan utama, sedangkan riam menjadi gerbang yang harus dilewati dengan kesabaran, pengalaman, dan penghormatan kepada alam.

Kabupaten paling hulu di sepanjang Sungai Mahakam itu masih menyimpan bentang sungai yang relatif alami. Di sejumlah titik, aliran air menghantam bongkahan batu purba, membentuk riam dengan karakter yang berbeda-beda. Ada yang hanya bergelombang pendek, ada pula yang menciptakan pusaran kuat dan arus yang mampu menyeret perahu jika salah mengambil jalur.

Bagi masyarakat Dayak yang mendiami kawasan ini, riam bukanlah penghalang. Ia adalah bagian dari kehidupan sehari-hari. Anak-anak tumbuh mendengar kisah tentang setiap tikungan sungai. Para pengemudi longboat menghafal posisi batu, perubahan arus, hingga suara air yang menandai jalur aman. Pengetahuan itu tidak dipelajari dari peta, melainkan diwariskan dari generasi ke generasi.

Di atas sungai itulah aktivitas berlangsung. Warga mengangkut kebutuhan pokok, hasil kebun, bahan bakar, hingga mengantar anak-anak ke sekolah atau membawa pasien menuju pusat layanan kesehatan. Semua bergantung pada kemampuan membaca sungai.

Namun, sungai tak pernah benar-benar bisa ditebak.

Saat musim hujan datang, permukaan air naik menutupi batu-batu yang biasanya menjadi penanda jalur. Arus menguat, pusaran bertambah dalam, sementara suara riam terdengar lebih garang. Sebaliknya, ketika kemarau tiba, air surut memperlihatkan hamparan batu besar yang selama berbulan-bulan tersembunyi. Jalur pelayaran pun berubah lagi. Apa yang kemarin aman, belum tentu hari ini bisa dilalui.

Masyarakat Mahakam Ulu memahami perubahan itu sebagai bagian dari siklus alam. Mereka tidak berusaha melawannya, melainkan menyesuaikan diri. Sungai mengajarkan bahwa setiap musim memiliki cara hidupnya sendiri.

Di balik tantangan tersebut, riam justru menjadi daya tarik bagi para pelancong. Mereka datang untuk merasakan sensasi melintasi jeram di tengah bentang hutan hujan yang masih rapat. Perjalanan menyajikan panorama yang terus berganti: tebing hijau menjulang, pepohonan raksasa yang menaungi tepian sungai, hingga satwa liar yang sesekali muncul sebelum kembali menghilang ke balik rimbun dedaunan.

Bagi wisatawan, pengalaman itu menghadirkan adrenalin. Bagi warga setempat, itu adalah rutinitas yang dijalani dengan penuh kewaspadaan.

Sebab setiap riam menyimpan cerita.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kecelakaan terjadi di kawasan riam Mahakam Ulu. Pada Maret 2019, longboat Etnis Mahakam karam di Riam Asui. Empat orang menjadi korban; satu ditemukan meninggal dunia, sementara tiga lainnya sempat dinyatakan hilang.

Tiga tahun berselang, September 2022, longboat Belareq Jaya yang mengangkut bahan bakar minyak karam di Riam Panjang. Seorang anak buah kapal sempat hilang sebelum akhirnya ditemukan tim SAR gabungan dalam kondisi meninggal dunia.

Peristiwa serupa kembali terjadi pada Juli 2025 ketika sebuah speedboat yang membawa 16 penumpang menghantam batu di kawasan Riam Panjang, tepatnya di Napoq Batoq Lavung. Perahu tenggelam, tetapi seluruh penumpang berhasil diselamatkan.

Riam Panjang, Riam Udang, maupun sejumlah jeram lain di hulu Mahakam memang dikenal memiliki karakter yang menantang. Arus deras, gelombang tinggi, serta batuan terjal menjadikan setiap perjalanan menuntut ketelitian. Tidak sedikit perahu yang terbalik, meski banyak pula penumpang dapat diselamatkan berkat kesigapan warga, tim penyelamat, dan semakin meningkatnya penggunaan perlengkapan keselamatan.

Deretan peristiwa itu menjadi pengingat bahwa keindahan sungai selalu berjalan beriringan dengan risiko. Alam menawarkan pesona, tetapi juga meminta manusia memahami batasnya.

Di Mahakam Ulu, hubungan dengan sungai dibangun bukan atas dasar penaklukan, melainkan penghormatan. Setiap perjalanan dimulai dengan membaca cuaca, memperhatikan tinggi muka air, memastikan kondisi perahu, dan mempercayakan kemudi kepada mereka yang mengenal sungai seumur hidupnya.

Barangkali di situlah makna sebenarnya dari riam Mahakam.

Ia bukan sekadar jeram yang harus ditaklukkan, melainkan ruang tempat manusia belajar tentang kesabaran, keberanian, dan kerendahan hati. Di antara dentuman air, lebatnya hutan, serta langit luas yang membentang di perbatasan Kalimantan, riam terus mengalir sebagai denyut kehidupan masyarakat hulu Mahakam.

Dan selama sungai masih menjadi jalan utama, kisah-kisah itu akan terus mengikuti arus—menghubungkan masa lalu, masa kini, dan masa depan Mahakam Ulu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *