Malam belum benar-benar berganti hari ketika Sungai Mahakam memperlihatkan wajah paling sunyinya. Air mengalir tenang di antara gelap yang memeluk Kampung Sebelang, Kecamatan Muara Pahu, Kabupaten Kutai Barat. Tak ada firasat bahwa perjalanan yang semula diniatkan untuk mencari nafkah akan berakhir menjadi petata. Takdir hanya Tuhan yang maha tahu. Semoga musibah ini menjadikan berkah menuju harapan hidup lebih baik.
Di atas KM Berkat Indah, para awak kapal hanya menjalankan rutinitas yang sudah berulang kali mereka lakukan. Mengawal kapal bermuatan sekitar 50 ton material bangunan—besi dan semen—adalah pekerjaan yang mungkin tak pernah membuat mereka kaya. Namun, di tengah harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik, pekerjaan itu menjadi pegangan agar dapur tetap mengepul.
Nasib, rupanya, memiliki rencana lain.
Sekitar pukul 00.00 Wita, Jumat, 10 Juli 2026, badan kapal yang melaju perlahan menyusuri alur Sungai Mahakam yang sedang surut tiba-tiba berhenti. Sesaat kemudian, air mulai merembes dari bawah lambung. Ketika diperiksa, kebocoran itu sudah telanjur membesar. Lunas kapal diduga menghantam limbah kayu yang tertanam tegak di dasar sungai—bahaya yang tak terlihat dari permukaan.
Air masuk tanpa ampun.
Dua pompa air segera dinyalakan. Mesin bekerja tanpa henti, menguras air yang terus meninggi di dalam kapal. Namun, usaha manusia sering kali kalah oleh derasnya keadaan. Air yang masuk jauh lebih banyak daripada yang mampu dipompa keluar. Perlahan, tetapi pasti, badan kapal semakin berat, semakin rendah, lalu mulai ditelan sungai.
Di tengah kepanikan dini hari, dua anak buah kapal, Jalur dan Ian, bersama awak lainnya, berusaha menyelamatkan apa yang masih mungkin diselamatkan. Mereka mengikat badan kapal ke salah satu jembatan milik warga dengan harapan kapal dapat bertahan hingga bantuan datang.
Harapan itu hanya bertahan beberapa jam.
Menjelang pukul 08.00 Wita, tali yang menjadi sandaran terakhir tak lagi mampu melawan berat kapal yang terus dipenuhi air. KM Berkat Indah akhirnya tenggelam sepenuhnya. Bersama badan kapal, puluhan ton besi dan ribuan sak semen ikut menghilang ke dasar Sungai Mahakam.
Tak ada jerit yang terdengar. Hanya tatapan panjang para awak kapal ke permukaan sungai yang kembali tenang, seolah tak pernah merenggut apa pun.
Semua awak kapal berhasil menyelamatkan diri. Tidak ada korban jiwa dalam musibah itu. Namun, bagi mereka, kehilangan bukan hanya soal kapal yang tenggelam. Di dasar sungai itu ikut karam harapan atas upah yang dinanti, sementara beban kerugian justru datang menghampiri.
Besi masih mungkin diangkat melalui proses evakuasi yang panjang dan mahal. Tetapi ribuan sak semen dipastikan berubah menjadi bongkahan tak bernilai setelah terendam air. Pendapatan yang semestinya dibawa pulang berganti dengan ancaman tanggung jawab atas kerugian yang belum diketahui nilainya.
Ironi itu terasa semakin pahit. Mereka berangkat untuk mencari nafkah, tetapi pulang dengan kecemasan tentang siapa yang akan menanggung biaya penggantian barang yang rusak.
Hingga Jumat siang, upaya penyelamatan terus dilakukan. Dua kapal motor dikerahkan untuk mengevakuasi muatan yang masih bisa diselamatkan. Tim penyelam dari Kecamatan Muara Pahu turun ke dasar sungai, berharap masih ada material yang dapat diangkat sebelum seluruhnya tertutup lumpur dan arus Mahakam.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perhubungan Kabupaten Kutai Barat, Rita Nursandi, mengatakan hasil pendataan menunjukkan KM Berkat Indah mengangkut material bangunan berupa besi dan semen dengan kapasitas sekitar 50 ton. Ia juga meluruskan informasi yang sempat beredar di media sosial bahwa kapal membawa pupuk. Menurutnya, informasi tersebut tidak benar.
Besaran kerugian hingga kini masih dalam proses pendataan. Fokus utama adalah mengevakuasi kapal dan menyelamatkan muatan yang masih memungkinkan untuk diangkat.
Peristiwa ini kembali mengingatkan bahwa Sungai Mahakam menyimpan ancaman yang tak selalu tampak di permukaan. Ketika air surut, kayu-kayu sisa yang tertanam di dasar sungai berubah menjadi jebakan bagi kapal-kapal yang melintas. Dalam hitungan menit, perjalanan mencari rezeki dapat berubah menjadi musibah.
Bagi para awak KM Berkat Indah, Mahakam bukan sekadar sungai yang mereka arungi setiap hari. Di dasar sungai itu kini tersimpan kapal, muatan, dan sepotong harapan yang tenggelam bersama derasnya arus kehidupan. (rud/KP)












