Air Sungai Kedang Pahu Keruh, Meluas Landa Ratusan KK di Damai Kota Dugaan Pencemaran Tambang Batubara

KUTAI BARAT, KALTIM PERS— Kondisi air Sungai Kedang Pahu yang keruh mulai menimbulkan kekhawatiran masyarakat di Kecamatan Damai, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Keluhan tidak hanya datang dari warga Kampung Damai Seberang, tetapi juga meluas bagi masyarakat Kampung Damai Kota. Perubahan kondisi air yang dilaporkan terjadi sejak Senin (2/11/2026) tersebut diduga berkaitan dengan aktivitas pertambangan batubara di sekitar aliran sungai.

Yamin, salah satu tokoh masyarakat Kampung Damai Kota, berharap persoalan keruhnya air Sungai Kedang Pahu segera disikapi secara serius oleh pemerintah dan pihak terkait. Menurut dia, kondisi tersebut berpotensi merugikan masyarakat karena sungai masih menjadi salah satu sumber kebutuhan sehari-hari. “Apabila berlangsung dalam waktu lama, warga yang masih bergantung pada air sungai akan semakin kesulitan memenuhi kebutuhan rumah tangga,” kata Yamin.

Keluhan di Kampung Damai Kota terdapat sekitar 300 KK atau 800 jiwa. Diperkirakan sekitar 15–30 persen warga masih menggunakan air Sungai Kedang Pahu untuk kebutuhan mandi, cuci, dan kakus (MCK). Bahkan, ketika musim kemarau, jumlah warga yang mengandalkan air sungai diperkirakan meningkat hingga sekitar 35 persen. Kondisi air yang keruh membuat masyarakat khawatir terhadap kemungkinan dampak buruk bagi kesehatan, terutama bagi warga yang belum memiliki sumber air bersih alternatif.

Kepala Kampung Damai Seberang, Andreas Nemi, mengatakan, wilayah permukiman di sekitar sungai dihuni sekitar 100 kepala keluarga (KK) dengan jumlah penduduk lebih dari 300 jiwa. Dari jumlah tersebut, diperkirakan sekitar 50 persen warga masih memanfaatkan air sungai untuk mandi dan berbagai aktivitas sehari-hari. Masyarakat menduga perubahan kondisi air berkaitan dengan aktivitas pertambangan di sekitar aliran sungai. Namun, dugaan tersebut masih memerlukan pembuktian melalui pemeriksaan kualitas air.

Sementara itu, Andreas Nemi menyampaikan bahwa hingga saat ini belum ditemukan laporan ikan mati akibat perubahan kondisi air. Meski demikian, masyarakat tetap khawatir karena Sungai Kedang Pahu masih dimanfaatkan untuk mandi dan kebutuhan lainnya, termasuk aktivitas ternak. Ia meminta Pemerintah Kabupaten Kutai Barat melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) segera turun ke lapangan untuk memeriksa kondisi sungai dan mengambil sampel air guna dilakukan pengujian laboratorium. Pemeriksaan tersebut dinilai penting untuk mengetahui kualitas air sekaligus memastikan ada atau tidaknya indikasi pencemaran.

Masyarakat kedua kampung berharap pemerintah tidak menunda penanganan persoalan tersebut. Pengambilan sampel perlu dilakukan di sejumlah titik aliran sungai, termasuk di sekitar kawasan yang diduga menjadi sumber kekeruhan. Apabila hasil pemeriksaan membuktikan adanya pencemaran akibat aktivitas perusahaan, pihak yang bertanggung jawab diharapkan segera melakukan penanganan dan pemulihan lingkungan. Perlindungan Sungai Kedang Pahu menjadi perhatian penting karena menyangkut kesehatan, kebutuhan air bersih, serta keberlangsungan kehidupan masyarakat yang bermukim di sepanjang alirannya.(pol/KP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *