KUTAI BARAT, KALTIM PERS — Bilah-bilah rotan tersusun perlahan di tangan Jihan. Jemarinya yang masih mungil bergerak menyilang, merapatkan helai demi helai hingga membentuk sebuah tas. Usianya baru 11 tahun, tetapi ketekunan itu telah membawanya mengenal salah satu warisan kerajinan tradisional Kutai Barat, Kalimantan Timur. Di Kampung Tukuq, Kecamatan Bentian Besar, Jihan belajar bahwa sebuah tradisi dapat bertahan melalui kesabaran dan kemauan untuk meneruskannya.
Jihan merupakan siswi SD Negeri 009 Bentian Besar. Keterampilan menganyam dikenalkan oleh ibunya, Wati, yang sehari-hari juga menjadi perajin rotan. Lingkungan keluarga membuat Jihan akrab dengan bahan alam tersebut sejak kecil. Ia mulai mengenal anyaman ketika berusia sekitar tujuh tahun, sebelum akhirnya menekuninya lebih serius saat duduk di kelas IV sekolah dasar. Kedua kakaknya, Analisa (27) dan Aditia (18), turut menekuni kerajinan yang sama, sedangkan ayahnya bekerja sebagai petani.
Bagi Jihan, menganyam bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang. Sepulang sekolah, setelah belajar dan bermain, ia kembali mengerjakan bilah-bilah rotan. Kini, ia mampu membuat tas dalam berbagai ukuran serta anjat, wadah tradisional berbahan rotan yang dikenal masyarakat setempat. Untuk menyelesaikan sebuah produk, ia membutuhkan waktu sekitar satu hingga dua hari, bergantung pada ukuran dan tingkat kesulitannya.
Keterampilan tersebut juga mulai memberikan nilai ekonomi. Jihan memperoleh upah sekitar Rp100.000 untuk setiap tas yang diselesaikannya. Kemampuannya mendapat perhatian melalui pembinaan Bidang Industri Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Disdagkop dan UKM) Kutai Barat. Pada Rabu (7/10/2026), Jihan memperagakan keterampilannya di stan Disdagkop dan UKM Kutai Barat dalam pameran INACRAFT di Jakarta International Convention Center, Jakarta. Di hadapan pengunjung pameran, karya tangannya menjadi gambaran bahwa kerajinan tradisional memiliki peluang untuk terus dikenal sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi perajin.
Jihan memiliki cita-cita menjadi polisi wanita ketika dewasa. Namun, cita-cita itu tidak membuatnya ingin meninggalkan keterampilan menganyam. Ia justru ingin generasi seusianya tidak merasa malu mempelajari kerajinan yang diwariskan dari orang tua dan leluhur mereka. “Jangan pernah malu melakukan hal positif ini, karena ini merupakan identitas dari daerah kita sendiri,” tuturnya. Pesan sederhana itu menyimpan makna yang lebih luas: pelestarian budaya tidak selalu dimulai dari program besar atau panggung pertunjukan. Ia bisa tumbuh dari rumah, melalui seorang ibu yang mengajarkan keterampilan kepada anaknya, lalu diteruskan oleh tangan-tangan muda yang bersedia belajar. Dari Kampung Tukuq, Jihan merawat anyaman rotan bukan hanya sebagai kerajinan, melainkan juga sebagai bagian dari jati diri Kutai Barat yang layak diwariskan kepada generasi berikutnya.(hms6)












