SENDAWAR, KALTIM PERS – Meski berangsur-angsur surut banjir di Kampung Muara Beloan, Kecamatan Muara Pahu, namun belum semuanya aman. Hingga Senin, 1 Juni 2026, air masih merendam di kawasan RT 1. Ada empat alur pemukiman masih terendam banjir antara 50 cm sampai 1 meter. Yakni di Jalan Saka Telu, Jalan Kihajar Dewantara, Jalan Ali Yusri, dan Jalan Soekarno-Hatta.
Yang lebih memprihatinkan, akses jalan sekitar 7 km ke ibu kota kabupaten Kutai Barat (Kubar), Provinsi Kalimantan Timur juga masih terendam banjir. Ketinggian air sekitar 1 sampai 1,5 meter. Akibatnya, kampung penghasil ikan air tawar terbesar di Kutai Barat, masih terisolir.
Meski Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat telah kembali ke Jakarta. Namun masih mengontak Petinggi Muara Beloan, Rudy Suhartono menggunakan telepon seluler. Termasuk dari Kodim 019/Kubar mengaku permintaan data dari Mabes TNI di Jakarta, terkait perkembangan banjir di Muara Beloan.
“Mohon info per hari ini kondisi di sana seperti apa pak,” pesan WhatsApp dari BNPB Pusat yang telah meninjau banjir di Muara Beloan, Sabtu, 30 Mei 2026. Tak hanya itu. mereka pun mempertanyakan kembali. “Untuk ketersediaan logistik saat ini apalah masih cukup pak?,” lanjutnya.
Menjawab pertanyaan BNPB Pusat, Petinggi Muara Beloan, Rudy Suhartono menjelaskan banjir masih terjadi. Meski sempat beberapa cm meter air surut. Demikian soal logistik, belum ada penambahan dan warga sangat memerlukan khususnya bantuan sembako.
Terkait banjir di Muara Beloan, Rudy mengaku, selalu intens melaporkan perkembangan banjir kepada pihak BNPB Pusat dan jajaran TNI.
HUJAN MASIH TERJADI
Kepala Kampung Muara Beloan, Rudy Suhartono mengaku, masih kuatir dengan kondisi cuaca. Masih terjadi hujan. Hal ini dapat menambah volume atau debit air banjir. Muara Beloan yang memiliki luas 8.430 hektar semuanya masih terendam banjir. Di kawasan itu ada dua danau besar dan lima danau kecil. Serta belasan anak sungai, sudah penuh air. “Kalau hujan terus akan meluapkan kawasan danau dan anak sungai itu. Sehingga menjadi banjir besar lagi,” ungkap Rudy, mantan Komisionir KPU Kutai Barat.
Meski ada ancaman lagi, kiriman air dari Sungai Mahakam dan Sungai Kedang Pahu. “Tapi kami pantau Sungai Mahakam air surut. Dikuatirkan lagi kiriman meluapnya air dari Sungai Kedang Pahu,” terangnya. Muara Beloan tumpuan air dari dua alur sungai tadi.
Muara Beloan kawasan yang mudah terendam banjir. Selain itu, berada di lembah cekungan. Sehingga banjir ancaman setiap tahun. “Bahkan banjir 2 sampai 3 kali setahun. Yang menjadi masalah, Muara Beloan tidak ada perbukitan untuk lokasi pengungsian,” katanya. Akibat banjir inipun, beberapa tahun sebelumnya sudah ada dua warga menjadi korban jiwa.
Untuk itu, Pemerintah Kampung Muara Beloan berharap agar bantuan 4 unit pelabuhan terapung bisa segera disediakan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Pusat atau Pemkab Kubar. Selain itu armada speed karet atau perahu karet untuk transportasi pengungsian. “Karena banjir di Muara Beloan dengan cepat, sehingga menjadi masalah besar nantinya,” katanya.
Muara Beloan berpenduduk 213 kepala keluarga 757 jiwa sulit diungsikan jika armada terbatas. Karena jumlah banyak jumlah penduduknya. “Kita berharap pemerintah pusat bisa segera bertindak, sebelum nantinya ada korban jiwa yang banyak,” sebutnya.
Apalagi 5 tahun terakhir, banjir di Muara Beloan sulit diprediksi. Seharusnya musim kemarau malah kebanjiran. Karena curah hujan tinggi. Bisa jadi bagian dari dampak banyaknya kawasan hutan diwilayah Kabupaten Kutai Barat beralih menjadi kawasan tambang batubara dan perkebunan kelapa sawit. Atau penyebab fenomena alam yang tidak menentu lagi. (ton/KP)












