Banyak Anak Kubar Usus Buntu, Ini Penyebabnya

Catatan : Rudy Suhartono

Selasa, 5 Mei 2026, harus mendampingi putri saya berusia 16 tahun operasi usus buntu (apendisitis) di RSUD Harapan Insan Sendawar (HIS). Awalnya sempat tidak percaya. Ternyata pengakuan sejumlah medis di rumah sakit plat merah itu banyak anak-anak yang harus menjalani operasi usus buntu. Wah …???

BERAWAL dari gejala biasa-biasa saja. Seperti gejala sakit perut bagian bawah pada sisi kanan sampai ke belakang. Kemudian buang air besar (BAB) tidak lancar.

Namun beberapa jam kemudian, putri saya merasakan sakit yang serius. Hingga menangis. Namun rasa sakitnya menjadi luar biasa kata putri saya, yang masih menempuh pendidikan di kelas 3 SMP Kreatif Cendikia Simpang Raya, Kecamatan Barong Tongkok, Kutai Barat (Kubar). Memang putri saya ini, sudah menjadi pantauan sulit makan (baca: jarang makan). Karena lebih suka mengonsumsi jajanan.

Berjalan waktu rasa sakit putri saya terus memuncak. Hal ini membuat saya dan istri semakin panik. Lalu, membawa putri saya ke Klinik Permata Husada Melak, Sabtu malam, 2 Mei 2026. Hasil cek urine normal saja. Tak puas di situ, Minggu, 3 Mei 2026 memeriksakan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD HIS hasilnya lab dan urine negatif. Namun hasil pemeriksaan fisik putri saya, positif terjadi peradangan usus atau mengarah kepada usus buntu. Untuk lebih meyakinkan lagi agar putri saya dilakukan pemeriksaan Ultrasonografi (USG) di RSUD HIS. Permintaan itu tidak bisa dipenuhi, karena bertepatan hari libur.

Tak puas sampai di situ, kembali membawa putri saya ke Klinik Husada Pertama Melak. Hasilnya USG bahwa 50 persen positif usus buntu dan peradangan kantung kemih.

Karena positif, akhirnya malam Senin, 4 Mei 2026 ke RSUD HIS. Karena banyak pasien operasi sehingga harus antre. Akhirnya, putri saya dioperasi usus buntu, pada hari Selasa, 5 Mei 2026. Hingga kini kondisi kesehatannya mulai pulih. Meski belum dapat turun ke sekolah. Dampak operasi BAB belum lancar. Seiring waktu sudah mulai kembali normal.

Dari konsultasi dokter spesialis yang melakuan operasi putri saya di RSUD HIS, penyebab usus buntu diantaranya pola makanan yang dikonsumsi sehari-hari. ”Kalau makan pentol, mi instan, boba dan sejenisnya. Itu semua bukan makanan sih. Boleh dimakan tapi tidak harus setiap hari,” kata istri saya menirukan penyataan dokter spesialis RSUD HIS. Boba adalah terbuat dari tapioka, pati singkong, dan gula merah, memberikan tekstur kenyal yang khas.

Demikian makanan yang mengandung biji-bijian itu, lanjut dokter spesialis tersebut, bukan penyebab utama terjadinya usus buntu.

Yang memprihatinkan, operasi usus buntu ini banyak menyerang anak-anak yang harus ditangani di RSUD HIS. Melihat kondisi ini harus menjadi perhatian kita semua sebagai orangtua. Jajanan di sekolah maupun yang melayani keliling ke rumah-rumah harus menjadi pantauan para orangtua. Bisa jadi, jajanan yang ditawarkan lalu dikonsumsi anak kita berbahaya bagi kesehatan anak-anak kita. Pihak sekolah pun diminta harus jeli jajanan yang sehat bagi anak didiknya. Peran serta Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan Kubar harus berperan penting. Tidak mungkin Kubar punya regenerasi tapi tidak kuat karena banyak terserang penyakit. Anak yang berprestasi harus didukung jiwa raga yang sehat pula.

PENYEBAB USUS BUNTU

Berikut artikel kesehatan dapat menjadi referensi para orangtua. Usus buntu adalah penyumbatan pada saluran usus. Sering kali akibat feses yang mengeras (fekalit), pembengkakan kelenjar getah bening, infeksi saluran cerna, atau parasit. Penyumbatan ini menyebabkan bakteri berkembang biak, memicu peradangan, infeksi, pembengkakan, dan risiko usus buntu pecah.

Berikut adalah penyebab rinci dan faktor risiko usus buntu pada anak:Penyumbatan (Obstruksi) Lumen: Ini adalah penyebab paling umum. Penyumbatan terjadi pada saluran sempit usus buntu, yang dapat dipicu oleh: Fekalit: Tinja yang mengeras dan terjebak.

  • Pembengkakan Kelenjar Getah Bening: Pembesaran jaringan limfoid di dinding usus, sering kali setelah infeksi saluran napas atau cerna.
  • Parasit: Infeksi cacing atau parasit lain di usus.
  • Infeksi Saluran Pencernaan: Bakteri atau virus yang menyebabkan peradangan pada jaringan usus, yang kemudian menyebar ke usus buntu.
  • Kurang Konsumsi Serat: Pola makan rendah serat dapat memicu sembelit (konstipasi), yang meningkatkan risiko terbentuknya tinja keras (fekalit) yang menyumbat usus buntu.
  • Faktor Lain: Meskipun jarang, tumor atau trauma (cedera perut) juga dapat memicu peradangan usus buntu.
  • Mitos vs Fakta: Mitos bahwa biji-bijian (seperti jambu, cabai) menyebabkan usus buntu tidak sepenuhnya tepat. Namun, kuman yang terbawa oleh makanan atau kurangnya serat (kurang sayur/buah) dapat menjadi faktor risiko.

    Segera hubungi dokter jika anak mengalami sakit perut hebat yang dimulai dari pusar dan berpindah ke kanan bawah, demam, mual, atau muntah.

    Sebenarnya, tidak ada satu jenis makanan pun yang secara langsung menyebabkan usus buntu (apendisitis). Usus buntu pada anak biasanya terjadi karena adanya penyumbatan pada saluran usus buntu, yang kemudian memicu infeksi bakteri.Namun, pola makan tertentu dapat meningkatkan risiko terjadinya penyumbatan tersebut. Berikut adalah jenis makanan yang perlu diperhatikan:

  • Makanan Rendah Serat: Kurangnya asupan serat dari sayur dan buah dapat menyebabkan feses (tinja) menjadi keras (sembelit). Feses yang keras ini bisa tersangkut dan menyumbat pangkal usus buntu.
  • Makanan yang Sulit Dicerna: Beberapa makanan yang dapat memicu konstipasi atau sulit dicerna jika dikonsumsi berlebihan meliputi:
    • Biji-bijian yang tidak hancur: Seperti biji cabai atau paprika yang tidak terkunyah dengan baik, berisiko menyumbat usus.
    • Daging Olahan & Daging Merah: Sosis, nugget, dan daging merah tinggi lemak membutuhkan waktu lebih lama untuk dicerna, yang bisa memicu sembelit.
    • Pisang Muda & Kesemek: Kandungan zat tepung atau pektin yang tinggi di dalamnya dapat memperlambat pencernaan pada beberapa anak.
  • Makanan Sangat Pedas: Konsumsi cabai berlebih dapat menyebabkan iritasi pada dinding saluran pencernaan.
  • Kurang Minum Air Putih: Meski bukan makanan, kurangnya hidrasi membuat feses anak lebih cepat mengeras, sehingga risiko penyumbatan usus buntu meningkat.
  • Pencegahan Utama: Untuk menjaga kesehatan pencernaan anak, sangat disarankan untuk memperbanyak asupan makanan berserat tinggi seperti gandum utuh, buah, dan sayuran, serta memastikan anak cukup minum air putih setiap hari. (***/redaksi KP)

     

    Tinggalkan Balasan

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *