Banjir, Bisa Hambat Salat Iduladha

LENGANG: Warga Melak Ilir, Kecamatan Melak memilih berdiam di rumah. Tampak akses jalan yang terendam banjir lengang. Biasanya di sii padat lalu lintas kendaraan ke Samarinda melalui feri penyeberangan di Melak Ilir. Karena banjir aktivitas terhenti. Termasuk halaman Masjid Sabilussalam, Kelurahan Melak Ilir turut terendam banjir.

SENDAWAR, KALTIM PERS- Banjir di Kutai Barat (Kubar) terus meluas. Tapi sejak Sabtu, 24 Mei 2026 air mulai berangsur surut. Tapi belum aman. Jika hujan masih terus terjadi. Bukan tidak mungkin volume banjir akan kembali naik.

Pantauan media ini hingga Sabtu, 23 Mei 2026. Banjir melanda puluhan kampung di wilayah 9 dari 16 Kecamatan se-Kubar. Yakni Kecamatan Long Iram, Tering, Barong Tongkok, Mook Manaar Bulatn, Melak, Muara Pahu, Penyinggahan, Muara Lawa, dan Damai. Ketinggian air sekitar 1,5 meter hingga 2,30 meter.
Tak hanya rumah, akses jalan di sejumlah kampung turut terputus. Beraktifitas warga menggunakan perahu ketinting. Dipastikan lahan pertanian gagal panen, karena terendam banjir. Hewan ternak pun harus diungsikan ke lokasi lebih tinggi atau kandang panggung. Banjir inipun bisa menghambat pelaksanaan Iduladha pada Selasa, 26 Mei 2026. Karena banyak rumah ibadah di pemukiman pesisir Sungai Mahakam terendam banjir.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kubar banjir ini berdampak kepada 1.340 rumah dan dihuni lebih dari 5.700 jiwa terendam banjir.


Akibat banjir yang terus meluas ini, Bupati Frederick Edwin menetapkan status siaga bencana. Pernyataan tersebut disampaikan Bupati saat meninjau langsung kondisi banjir di sejumlah kampung pesisir mahakam, wilayah Kecamatan Tering, pada Rabu, 20 Mei 2026.Seperti diketahui, ketinggian air pada, Rabu, 20 Mei 2026 di sejumlah kampung di Kecamatan Tering. Adalah Kampung Tering Puan, Tering Lama, Tering Lama Ulu, dan Tering Baru.

MASIH NAIK: Banjir merendam rumah warga di RT 1 Kampung Muara Beloan, Kecamatan Muara Pahu, Sabtu, 24 Mei 2026.


KORBAN BANJIR DI BELOAN TERANCAM
Sedikitnya 15 rumah di Kampung Muara Beloan, Kecamatan Muara Pahu, Kubar berdampak terendam banjir. Ketinggian air di dalam rumah sekira 50 cm hingga 1,4 meter. Warga menggunakan lantai panggung di dalam rumah. Lokasi rumah terendam, 4 rumah di RT 1 dan 2 rumah di RT 5. Dari jumlah keseluruhan 116 rumah terdiri 141 panggung da 25 terapung (rakit).

Tak hanya rumah, hampir semua warga Muara Beloan juga mengalami minimnya pendapatan dari nelayan. Ikan tidak ada yang berhasil ditangkap karena air meluap. Kondisi ini harus menjadi perhatian pemerintah. Agar bisa membantu bahan pangan atau sembako. Berupa beras, minyak goreng, mi instan, dan telur.

Salat Iduladha yang dijadwalkan Selasa, 26 Mei 2026 dipastikan terkendala. Karena masjid Khairul Ummah Muara Beloan turut teredam. Belum lagi akses jalan ke kabupaten terendam. Hal ini membuat Muara Beloan terisolir.

Kepala Kampung Muara Beloan Rudy Suhartono bersama BPK, dan Lembaga Adat meninjau banjir di Muara Beloan, Sabtu, 23 Mei 2026. Menyusuri pemukiman warga menggunakan perahu ketinting. “Tidak ada korban jiwa terhadap bencana banjir ini. Namun kita akan usulkan kepada Pemkab Kubar melalui BPBD agar ada bantuan tenda darurat/kemah untuk tempat pengungsian dan sembako,” kata Rudy Suhartono. Untuk tenaga kesehatan, sudah disiagakan antisipasi warga terserang penyakit.
Khususnya bantuan tenda darurat beserta perlengkapan tidur seperti selimut, bantal, dan alas tidur. Ini diperlukan antisipasi terjadi pengungsian ke lokasi lebih tinggi. “Kita tidak ada bukit. Lokasi pengungsian akan menggunakan bangunan di Beloan yang lebih tinggi atau rakit (bangunan terapung dibuat warga). Untuk sembako, diharapkan segera. Karena banjir mata pencaharian warga sulit. Meski penduduk Muara Beloan 213 kepala keluarga dan 757 jiwa hampir 95 nelayan saat banjir ikan sulit ditangkap. Kecuali keadaan tertentu. “Kami memohon bantuan sembako bagi warga korban banjir,” harapnya.
Rudy mengimbau, agar warga mengutamakan keselamatan jiwa beserta sanak keluarga. Jika sudah aman, menyelamatkan barang berharga. Khusus jaringan listrik pun harus aman. Warga dan pihak pengelola listrik kampung harus saling sinergi merapikan jaringan listrik dari potensi kejadian yang tidak diinginkan. (ton/KP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *