SENDAWAR, KALTIM PERS – Di alur Sungai Bongan, riak air perlahan berubah ramai. Ratusan warga Kampung Pering Talik, Kecamatan Bongan, Kabupaten Kutai Barat, berkumpul di tepian sungai. Mereka membawa pukat dan berbagai alat tangkap sederhana. Bukan sekadar berburu ikan, melainkan menjalankan sebuah tradisi yang diwariskan turun-temurun: menuba.
Bagi masyarakat Pering Talik, menuba bukan hanya cara memperoleh hasil tangkapan ikan. Tradisi ini menjadi penanda dimulainya musim tanam padi sekaligus doa agar hujan segera turun membasahi ladang.
Prosesi diawali dengan memanfaatkan getah dari pohon tuba. Getah tersebut direndam di dalam drum berisi air hingga larut, kemudian disebarkan ke alur sungai. Zat alami dari getah membuat ikan kehilangan keseimbangan untuk sementara sehingga mudah ditangkap menggunakan pukat atau alat tangkap tradisional lainnya.
“Ikan bukan mati, tetapi seperti pingsan. Setelah itu warga mudah menangkapnya,” ujar Kepala Kampung Pering Talik, Agus Salim.
Tak lama berselang, permukaan sungai dipenuhi berbagai jenis ikan air tawar. Ada ikan baung, biawan, lepok, haruan, hingga jenis ikan lokal lainnya. Suasana berubah menjadi pesta kebersamaan. Anak-anak, orang dewasa, hingga para orang tua ikut merasakan kegembiraan memungut hasil sungai.
Hasil tangkapan yang melimpah menjadi berkah tersendiri bagi warga. Di pasaran, harga ikan air tawar bisa mencapai sekitar Rp50.000 per kilogram. Namun, melalui tradisi menuba, masyarakat memperoleh ikan tanpa harus membeli.
Lebih dari sekadar memenuhi kebutuhan pangan, tradisi ini juga mempererat hubungan sosial. Warga berkumpul, bekerja bersama, lalu berbagi hasil tangkapan. Nilai gotong royong yang telah hidup sejak lama kembali terasa di tengah kehidupan masyarakat.
Usai menuba, perhatian warga beralih ke ladang. Musim tanam padi segera dimulai. Hampir setiap kepala keluarga menggarap lahan sekitar dua hektare untuk ditanami padi, yang menjadi sumber pangan utama masyarakat.
Dalam keyakinan yang diwariskan para leluhur, menuba memiliki hubungan erat dengan datangnya musim hujan. Tradisi ini dipercaya sebagai ikhtiar sekaligus harapan agar hujan segera turun, sehingga tanaman padi dapat tumbuh subur.
“Setelah menuba ikan, kami percaya hujan akan turun sehingga tanaman padi tumbuh dengan baik,” kata Agus Salim.
Di tengah perubahan zaman, tradisi menuba masih terus dipertahankan warga Kampung Pering Talik. Bagi mereka, sungai bukan hanya sumber kehidupan, melainkan ruang yang menyimpan ingatan kolektif tentang cara manusia hidup berdampingan dengan alam.
Di Pering Talik, musim tanam selalu diawali dengan kebersamaan di sungai. Dari riak air yang menghadirkan limpahan ikan, masyarakat menanam harapan akan panen yang baik pada musim yang akan datang. (rud/KP)












