Ketika Kemarau Menyempitkan Sungai, Ruang Hidup Masyarakat Mahakam Ikut Terdesak

DAS Mahakam yang dikuasai produksi batubara. Warga Muara Pahu hanya jadi penonton. Rawan laka air dan hilangnya mata pencaharian perikanan.

SENDAWAR, KALTIM PERS – Musim kemarau kembali mengubah wajah Daerah Aliran Sungai (DAS) Mahakam. Debit air yang menurun membuat sejumlah ruas sungai mengalami pendangkalan, termasuk di kawasan pertemuan Sungai Mahakam dan Sungai Kedang Pahu, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur. Jalur pelayaran yang selama ini menjadi nadi mobilitas masyarakat menyempit, sementara aktivitas angkutan batu bara tetap berlangsung di badan sungai.

Perubahan itu menghadirkan tantangan baru bagi warga yang setiap hari bergantung pada transportasi air. Perahu ketinting yang menghubungkan permukiman, kebun, hingga pasar harus bergerak lebih hati-hati untuk menghindari endapan pasir yang muncul ketika air surut. Di kawasan pertigaan sungai, ruang bermanuver semakin terbatas sehingga setiap perjalanan membutuhkan kewaspadaan lebih tinggi.

Di saat yang sama, puluhan ponton batu bara yang melintas maupun bertambat di sepanjang DAS Mahakam turut memengaruhi ruang gerak pengguna sungai lainnya. Kapal-kapal berukuran besar tersebut memang menjadi bagian dari aktivitas ekonomi di kawasan itu, tetapi keberadaannya membuat lebar efektif alur pelayaran bagi perahu-perahu kecil semakin berkurang, terutama ketika debit air sedang rendah.

Bagi nelayan, kondisi itu tidak hanya menyangkut keselamatan, tetapi juga penghidupan. Mereka harus berbagi ruang dengan lalu lintas kapal berukuran besar sekaligus menghadapi hasil tangkapan yang cenderung menurun pada musim kemarau. Sungai yang selama puluhan tahun menjadi sumber ikan dan jalur transportasi kini menghadirkan tantangan yang semakin kompleks.

Risiko kecelakaan lalu lintas air pun meningkat ketika ruang sungai semakin sempit. Perahu warga kerap harus mengurangi kecepatan atau menunggu kapal besar melintas terlebih dahulu. Gelombang yang ditimbulkan tugboat dapat mengguncang perahu kecil, terlebih di tikungan sungai dengan jarak pandang terbatas. Sementara itu, gosong pasir yang terbentuk akibat pendangkalan sering kali berubah mengikuti arus sehingga menjadi hambatan yang tidak selalu mudah dikenali.

Di tengah kondisi tersebut, keselamatan pelayaran menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan. Penggunaan jaket pelampung, pembatasan muatan, serta pengurangan kecepatan saat melintasi kawasan rawan menjadi langkah sederhana yang dapat mengurangi risiko kecelakaan.

Namun, upaya itu perlu diimbangi dengan penataan lalu lintas sungai yang lebih baik. Pengaturan lokasi tambat ponton dan tugboat, terutama agar tidak berada di tikungan maupun alur sempit, dapat memberikan ruang yang lebih aman bagi transportasi masyarakat. Pengawasan dan penegakan aturan di jalur pelayaran juga menjadi bagian penting untuk menjaga fungsi sungai sebagai ruang publik yang digunakan bersama.

Mahakam selama ini tidak hanya menjadi jalur distribusi komoditas, tetapi juga ruang hidup masyarakat. Dari sungai inilah warga mencari ikan, bepergian, mengangkut hasil kebun, hingga memenuhi kebutuhan sehari-hari. Karena itu, pengelolaan sungai semestinya tidak hanya mempertimbangkan kepentingan ekonomi, tetapi juga keselamatan dan keberlanjutan kehidupan masyarakat yang bergantung padanya.

Musim kemarau memang akan terus datang setiap tahun. Pendangkalan pun merupakan bagian dari dinamika alami sungai. Namun, ketika ruang sungai semakin menyempit akibat kombinasi faktor alam dan tingginya aktivitas pelayaran, perhatian terhadap keselamatan menjadi semakin mendesak. Sebab, di atas aliran Mahakam dan Kedang Pahu, yang dipertaruhkan bukan hanya kelancaran arus barang, melainkan juga keselamatan serta ruang hidup masyarakat yang sejak lama menjadikan sungai sebagai denyut kehidupan. (rud/KP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *