Di Bawah Langit yang Mengering, “Siaga” Bencana Pemukiman, Lahan dan Hutan

Panas 34 derajat celsius tidak saja menyurutkan air sungai. Diadang, kemarau potensi kebakaran hutan, lahan, dan pemukiman yang harus diwaspadai bersama. (FOTO: IST)

Langit di atas Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur beberapa hari terakhir tampak lebih terang dari biasanya. Matahari memancar tanpa banyak penghalang. Menjelang tengah hari, hawa panas memantul dari permukaan jalan, dedaunan kehilangan kesegarannya, dan tanah mulai merekah. Termometer menunjukkan suhu hingga 34 derajat Celsius. Namun, bagi petugas penanggulangan bencana, angka itu lebih dari sekadar catatan cuaca. Ia adalah pertanda meningkatnya ancaman kebakaran.

Di musim seperti ini, api tidak membutuhkan waktu lama untuk membesar. Satu puntung rokok yang masih menyala, pembakaran sampah di halaman rumah, atau percikan kecil di lahan yang mengering dapat berubah menjadi kobaran yang sulit dihentikan.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kutai Barat hingga Juli 2026 mencatat sekitar 60 hektare lahan telah terbakar. Titik kebakaran terkonsentrasi di Kampung Dingin, Kecamatan Lawa, serta Kampung Emas, Kecamatan Empas. Angka tersebut menambah daftar panjang kebakaran hutan dan lahan sepanjang tahun ini. Sebelumnya, pada periode Januari hingga April 2026, luas lahan yang terdampak telah mencapai 124,7 hektare.

Peta kerawanan menunjukkan ancaman tidak hanya berada di dua kampung tersebut. Kecamatan Bongan, Jempang, Penyinggahan, Muara Pahu, Damai, Lawa, Empas, hingga Sekolaq Darat termasuk wilayah yang memiliki risiko tinggi mengalami kebakaran hutan dan lahan. Karakter vegetasi berupa hamparan pakis serta kawasan bergambut membuat api mudah menjalar ketika musim kemarau datang dan kelembapan tanah terus menurun.

Setiap musim kering menghadirkan pola yang hampir sama. Vegetasi mengering, embusan angin mempercepat rambatan api, sementara sumber penyulut justru sering berasal dari aktivitas manusia. Kebakaran besar tidak selalu diawali oleh peristiwa besar. Sebaliknya, ia kerap lahir dari kelalaian yang tampak sepele.

Di kawasan permukiman, ancamannya pun tidak kalah nyata. Instalasi listrik yang sudah tua, penggunaan colokan listrik secara berlebihan, hingga kompor yang lupa dimatikan menjadi penyebab kebakaran rumah yang berulang setiap tahun di berbagai daerah. Ketika cuaca panas membuat material di sekitar lebih mudah terbakar, risiko itu ikut meningkat.

Karena itu, upaya pencegahan menjadi perhatian utama pemerintah daerah. Pemerintah kecamatan mengimbau pemerintah kampung, ketua RT, dan masyarakat untuk memperkuat langkah mitigasi sebelum keadaan berubah menjadi darurat. Pencegahan dinilai jauh lebih murah, lebih cepat, dan jauh lebih efektif dibandingkan pemadaman ketika api telah meluas.

Langkah-langkah yang dianjurkan sebenarnya sederhana. Warga diminta tidak membakar sampah di sekitar rumah maupun lahan yang kering. Instalasi listrik diperiksa secara berkala agar terhindar dari korsleting. Kompor dan sumber api dipastikan benar-benar padam setelah digunakan. Kebiasaan kecil semacam itu menjadi garis pertahanan pertama menghadapi musim kemarau.

Di tingkat kampung, kesiapsiagaan tidak berhenti pada imbauan. Peralatan pemadam kebakaran perlu dipastikan selalu siap digunakan. Koordinasi antarwarga juga menjadi faktor yang menentukan. Semakin cepat asap atau titik api diketahui, semakin besar peluang kebakaran dapat dikendalikan sebelum menjalar ke kawasan yang lebih luas.

Di balik langit yang semakin panas, tersimpan pengingat bahwa bencana tidak selalu datang tanpa tanda. Alam telah memberi isyarat melalui suhu yang meningkat, tanah yang mengering, dan vegetasi yang kehilangan kelembapan. Yang menentukan kemudian adalah bagaimana manusia merespons peringatan itu.

Musim kemarau memang tidak dapat dicegah. Namun, dampaknya masih bisa diperkecil apabila kewaspadaan tumbuh menjadi kebiasaan bersama. Di Kutai Barat, menjaga api tetap padam bukan hanya tugas petugas pemadam atau pemerintah daerah. Ia menjadi tanggung jawab setiap orang yang tinggal di bawah langit yang sama, yang setiap hari semakin mengering. (adv/diskominfokubar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *