Banyak Anak Korban: Cuci Darah hingga Mata Rusak

Catatan : Rudy Suhartono

Artikel berjudul, “Banyak Anak Kubar Usus Buntu, ini Penyebabnya. Terbit di media mediaoke.id Kaltim Pers, edisi 11 Mei 2026. Ternyata, berita ini menyisakan sejumlah komentar kepada saya. Bahkan isi komentarnya banyak yang memilukan. Tidak saja putri saya yang harus berakhir dioperasi karena usus buntu. Dialami serupa oleh anak-anak lainnya di Kubar. Bahkan ada pula, sejumlah anak hingga harus cuci darah.

AGAR tidak gagal paham. Pembaca yang budiman, ada baiknya melowongkan waktu sejenak membaca tulisan ini. Karena ini bagian dari alaram atau peringatan keras kepada para orangtua. Jika tidak ingin masa depan anak-anak kita rusak secara kesehatannya, Bagaimana pun anak kita cerdas jika kesehatan terganggu. Maka, tidak ada artinya terhadap pertumbuhan anak-anak kita.

Langkah apa yang harus dilakukan? Secara umum para dokter atau tenaga kesehatan memberikan peringatan. Pola makan yang sehat memang harus diutamakan. Anak-anak zaman dulu (baca: 20-35 tahun lalu), sarapan di rumah jika pergi ke sekolah. Sekarang berbeda. Hampir semua anak-anak tidak sarapan. Hanya diberikan uang saku atau uang jajan ke sekolah. Bahkan, sepulang sekolah khususnya di lingkungan masyarakat juga bebas mengonsumsi makanan atau jajanan pemicu penyakit bagi si anak.

Jajanan di sekolah, memang tidak semuanya berpotensi terhadap penyakit. Karena ada pihak sekolah yang aktif mengontrol warung atau kantin sekolah yang menjual jajanan bagi anak didiknya. Namun ada pula sekolah yang membiarkan.

Intinya kembali kepada para orangtua. Tidak harus lalai. Sebaiknya memang sebelum pergi ke sekolah diberikan sarapan. Kemudian selama di sekolah membawa bekal atau makanan dari rumah. Jika demikian dimungkinkan lebih aman bagi si anak.

Lalu makanan apa yang pemicu penyakit? Berdasarkan saran para tenaga medis. Makanan yang aman bagi kesehatan adalah, mengutamakan tanpa pengawet atau kemasan yang serta instan. Saya kira banyak makanan yang begitu saat ini. Jenis makanan ini, memiliki risiko jangka panjang. Seperti obesitas, diabetes, dan kanker. Hal ini, meliputi makanan tinggi gula (permen, minuman soda), tinggi lemak jenuh/trans (gorengan, cepat saji), daging olahan (sosis, nugget), serta makanan tinggi garam/MSG (snack kemasan, mi instan). Hindari juga makanan berpotensi alergi tinggi dan kafein bagi balita.

Sebaliknya, makanan aman dan sehat untuk anak adalah makanan gizi seimbang yang kaya protein, vitamin, mineral, dan lemak sehat. Seperti telur, ikan, susu/yogurt, daging tanpa lemak, sayuran hijau (bayam, brokoli), buah-buahan (apel, berry, alpukat). Berikutnya, karbohidrat kompleks (oatmeal, gandum utuh). Prioritaskan bahan segar, kurangi makanan kemasan, dan sajikan dengan menarik. Makanan sayur dan buah lokal sebenarnya lebih murah meriah dan aman.

Tak hanya pola makan, si anak juga harus memperhatikan olahraga terbaik agar tubuh selalu sehat. Berupa olahraga  kombinasi aktivitas aerobik dan latihan kekuatan. Seperti jalan cepat, berenang, bersepeda, yoga, dan latihan beban (squat/push-up). Lakukan rutin 30 menit per hari, 3-5 kali seminggu untuk meningkatkan kesehatan jantung, otot, sendi, dan menjaga berat badan ideal. Semoga informasi ini bermanfaat. (***/KP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *