Hujan 6 Bulan, Kubar Diadang Banjir, tapi di Mahulu Air Mulai Surut

Prakirawan BMKG Stasiun SAMS Sepinggan Balikpapan menunjukkan pergerakan angin di kawasan Kaltim. BMKG memprediksi puncak musim hujan di Kaltim akan terjadi pada Desember 2025-Januari 2026.(KOMPAS.Com/Alfian Erik)

BALIKPAPAN, KALTIM PERS- Ancaman banjir besar bakal terjadi di Kutai Barat (Kubar). Ini jika merujuk, curah hujan tinggi di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu). Selama ini banjir di Kubar, akibat meluapnya air Sungai Mahakam. Kiriman banjir dari Mahulu, karena berada di hulu Sungai Mahakam.

Hujan tinggi selama 6 bulan, sejak akhir 2025 sampai Juni 2026. Hal ini didasarkan data Pola Hujan Lokal Prakirawan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun SAMS Sepinggan Balikpapan.

Namun ancaman ini belum dapat dipastikan. Berdasarkan sumber pejabat di Mahulu kepada Kaltim Pers, air di Mahulu sudah berangsur-angsur surut. Namun tidak menutup kemungkinan air kembali naik, jika air hujan setiap hari.

Sementara Kepala Kampung Long Iram Ilir, Kecamatan Long Iram, Sukamto menyebutkan, air Sungai Mahakam sudah merangkak naik hingga di bibir pantai Sungai Mahakam. Namun kondisi air apakah terus naik menunggu infor dari Mahulu.

Idham Chalid, selaku Pola Hujan Lokal Prakirawan BMKG Stasiun SAMS Sepinggan Balikpapan mengatakan, ancaman hujan terus menerus ini pun akan dialami di Berau, Kutai Timur, Kutai Kartanegara, dan sekitarnya. Bahkan hujan waspada terhadap potensi cuaca ekstrem. “Khusus Balikpapan, meski peluang cuaca ekstrem lebih kecil, tetap ada potensi hujan lebat,” kata Idham.

Ditambahkan, Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I SAMS Sepinggan Balikpapan, Kukuh Ribudiyanto, tingginya pola hujan dipengaruhi keberadaan siklon tropis, yang justru mengurangi curah hujan di sejumlah daerah.

Kondisi serupa juga terjadi di Samarinda dan sebagian wilayah Paser. Kukuh mengingatkan bahwa potensi La Nina masih perlu diwaspadai. Sebab anomali suhu permukaan laut menunjukkan kecenderungan menuju fenomena tersebut. “La Niña dapat meningkatkan suplai uap air di wilayah Indonesia, termasuk Kaltim. Akibatnya, intensitas hujan pada musim penghujan tahun ini bisa bertambah,” katanya.

BMKG, lanjut dia, terus memperbarui informasi melalui prakiraan musiman, bulanan, dasarian (10 harian), dan peringatan dini cuaca ekstrem. “Untuk potensi ekstrem, BMKG memberikan informasi hingga tiga hari ke depan. Pada kondisi tertentu, kami bisa mengeluarkan peringatan 1–3 jam sebelumnya,” ujarnya. (rud/KP)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *