SENDAWAR, KALTIM PERS – Makan Bergizi Gratis (MBG) merambah ke kampung segera dimulai. Sebanyak 14 kampung dari 4 kecamatan di Kutai Barat (Kubar) menjadi lokasi pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) daerah terpencil. Ini sesuai ketetapan Badan Gizi Nasional (BGN), tertanggal 16 Oktober 2025.
Ke-14 kampung itu yakni tiga kampung di Kecamatan Penyinggahan adalah Kampung Loa Deras, Minta dan Penyinggahan Ilir). Berikutnya, 6 kampung di Kecamatan Muara Pahu yakni Tanjung Laong, Gunung Bayan, Dasaq, Muara Beloan, Tepian Ulaq dan Tanjung Pagar.
Berikutnya, 4 kampung di Kecamatan Long Iram adalah Muara Leban, Long Daliq, Kelian Luar, dan Ujoh Halang. Kampung Anan Jaya, Kecamatan Bentian Besar.
Heri Mustofa sebagai investor pembangunan SPPG di Kampung Muara Beloan yang ditunjuk oleh BGN Pusat. “MBG di Muara Beloan untuk 52 anak,” kata Heri Mustofa saat menyosialisasikan MBG di Ruang Pertemuan Kantor Kepala Kampung Muara Beloan, Kamis (20/11/2025). Hadir, Sekretaris DPMK Kubar Masranik, Kepala Kampung Muara Beloan Rudy Suhartono dan tokoh masyarakat.

Menu MBG yang akan diberikan akan ditetapkan oleh tenaga ahli gizi. “Jadi tidak meski enak makanannya melainkan makanannya yang diberikan adalah bergizi. Seperti tempe, telur dan lainnya,” kata Heri Mustofa, yang berprofesi sebagai guru di SMP Kampung Muara Bunyut, Kecamatan Melak.
Untuk kesiapan MBG ini, pihaknya sudah mendatangi sebuah rumah di RT 3 yang akan dijadikan dapur MBG. Kemudian juru masaknya akan melibatkan tenaga relawan lokal.
DILUAR PROGRAM AWAL
Pembangunan SPPG sejak awal program telah disosialisasikan pemerintah akan diberikan pengelolannya oleh pemerintah kampung. Dengan melibatkan Badan Usaha Milik Kampung (BUMKA). Namun penetapan investor yang dilakukan BGN justru tidak sesuai dengan rencana awal. Justru dikelola orang luar yang tidak mengetahui kondisi lokal. Hal ini telah mengecewakan sejumlah pemerintah kampung.
“Kami sangat kecewa. Seharusnya MBG ini dikelola oleh BUMKA di kampung setempat. Kok malah dari orang luar,” kata Ketua BPK Muara Beloan, Herpandi. BPK pun meminta kepada kepala kampung untuk mendesak pihak BGN pusat dan koordinator BGN Kubar. Agar usulan ini ditindaklanjuti. Karena warga Muara Beloan sangat mendukung langkah tersebut. Bukan sebagai penonton di daerah sendiri. Meski usulan ini tidak menganggu ketetapan Heri Mustofa sebagai investor. Justru harus bekerja sama. Bukan bermain sendiri. Karena jika ada apa-apa dalam pemberian menu MBG akan menjadi persoalan nantinya bagi warga kami.
Cara mengontrak/menyewa rumah warga sebagai dapur umum pun sangat disayangkan. Setidaknya dana kontrak/sewa rumah itu jika dikelola BUMKA bisa digunakan dananya untuk membangun dapur MBG di Muara Beloan. Sehingga bangunannya nanti menjadi aset kampung. “Kami siapkan tanahnya untuk dihibahkan. Karena setelah 4 tahun bangunan itu menjadi aset kampung. Sangat setuju sekali,” kata Herpandi. Pemerintah kampung meminta kepada BGN Pusat untuk meninjau ulang kebijakan tersebut. (rud/KP)












