Uang Beli Ikan Rp 613 Miliar, Sayangnya 7 Ribu Ton Didatangkan dari Luar

BELUM SEJAHTERA : Meski 95 persen nelayan dari 212 kepala keluarga dan 757 jiwa Kampung Muara Beloan, namun rata-rata kehidupannya masih tergolong tidak mampu. Panen ikan yang masih musiman membuat rakyatnya perlu bantuan pemerintah. Sementara lahan pertanian tidak ada, karena luas wilayah 8.430 hektar semuanya rawa, danau dan belasan anak sungai.

SENDAWAR, KALTIM PERS – Sektor perikanan sebenarnya menjanjikan. Merujuk data Dinas Perikanan (Diskan) Kutai Barat (Kubar) konsumsi ikan mencapai 12.265.000 ton per tahun. Dengan jumlah 11.343 Rumah Tangga Perikanan (RTP) se-Kubar. Ada 3 dari 16 kecamatan se-Kubar, panen ikan air tawar terbesar yakni Penyinggahan, Muara Pahu, dan Jempang. Jika dirata-rata harga pasar Rp 50 ribu per kg. Artinya ada perputaran uang Rp 613.150 miliar per tahun. Angka penjualan ini bersifat revenue (pemasukan kotor sebelum dikurangi biaya-biaya operasional, atau pengeluaran lainnya).

Sementara 12.263.000 ton per tahun itu, Kubar hanya mampu memasok ikan 4.427.495 ton saja per tahun. Artinya masih kekurangan 7.835.505 ton per tahun. Kekurangannya mendatangkan panen ikan dari luar oleh para tengkulak. Kepala Diskan Kubar, Pilip mengatakan, lima tantangan belum terpenuhi produksi ikan secara maksimal di Kubar. Meski Kubar memiliki luas wilayah 20.381 kilometer persegi.

Pertama sarana dan prasarana rusak serta jumlah terbatas. Seperti perahu, keramba dan revitalisasi (pembenahan) sarana perikanan. Kedua, Sumber Daya Manusia (SDM) kurang pengetahuan dan kurang berminat. Sehingga perlu pelatihan dan peningkatan minat generasi muda melalui ekonomi kreatif.

Kemudian, ketiga pemasaran kendalanya akses jauh, distribusi sulit dan dikuasai tengkulak. Solusinya membangun sistim pemasaran, promisi di media, dan integrasi dengan pasar modal. Keempat biaya/permodalan harga pakan tinggi, benih terbatas dan permodalan terbatas. Diversifikasi (penganekaragaman) pakan alternatif, pengembangan unit pembenihan rakyat lokal, akses pembiayaan KUR (kredit usaha rakyat)/bank daerah.

Kelima atau terakhir lingkungan dan kebijakan. Kualitas air menurun (pencemaran), teknologi adaktif iklim, penerapan kawasan sentra perikanan melalui kebijakan pemerintah daerah. Teknologi adaptif iklim adalah solusi yang membantu sistem beradaptasi dengan dampak perubahan iklim yang tidak dapat dihindari, seperti cuaca ekstrem atau kenaikan permukaan.

KUKUHAN GAPOKKAN

GAPOKKAN : Kepala Diskan Kubar Pilip (lima kiri) foto bersama Gapokkan Muara Beloan, usai dikukuhkan di Alun-alun Etam Muara Beloan, Selasa (18/11/2025).

Sebanyak 27 orang pengurus Gabungan kelompok perikanan (Gapokkan) Kampung Muara Beloan, Kecamatan Muara Pahu dikukuhkan oleh Kepala Diskan Kubar Pilip di Alun-alun Etam Kampung Muaar Beloan, Selasa (18/11/2025). Pilip pun memberikan sejumlah penghargaan kepada para pihak tokoh masyarakat peduli pelestarian perikanan dan nelayan yang sudah berhenti melakukan illegal fishing.

PENGHARGAAN : 12 penghargaan perikanan. Petinggi Muara Beloan Rudy Suhartono sebagai pelopor dan sejumlah tokoh penertiban ilegal fishing, Ketua UMKM sukses hilirisasi perikanan, nelayan budidaya sukses, pelaku usaha membantu ekonomi nelayan, dan nelayan tradisonal lestari.

”Diharapkan dengan KIS ini akan menjadikan peluang menghadirkan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Pilip. Ini akan berhasil, tentunya diperlukan kerja sama antar pemerintah daerah, dunia usaha dan masyarakat sebagai nelayan. Hal senada dikatakan Sekretaris Diskan Kubar, Jakaria selaku ketua panitia pelaksana KIS Kubar. Bahwa KIS untuk memperkuatkan kelembagaan perikanan dan arah pengembangan perikanan. ”Tentunya muaranya kepada meningkatkan produksi dan mensejahterakan masyarakat,” tutup Jakaria.

Sementara itu, Kepala Kampung Muara Beloan Rudy Suhartono menyambut sangat positif, Muara Beloan sebagai KIS. Muara Beloan siapkan hibah lahan 2.000 hektar untuk pembukaan kolam galian budidaya perikanan. Dari 2.000 hektar itu dimohon dapat dibangunkan kolam galian masing-masing 500 hektar pe rukun tetangga (RT). Kolam galian ini nanti dapat dikelola masing-masing RT untuk tabungan warga. Selain hasil tangkapan ikan yang dilakukan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan hidup. Di samping itu, harus ada bantuan sarana dan prasarana perikanan berupa perahu fiber dan mesin ketinting, pelatihan serta dukungan peningkatan sarana akses jalan. “Kami sangat mendukung KIS. Supaya warga kami bisa meningkatkan kesejahteraannya,” kata Rudy Suhartono. (rud/KP)  

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *