JAKARTA, KALTIM PERS – Hujan hampir terjadi setiap hari di Kutai Barat (Kubar) memberikan dampak buruk bagi kesehatan. Terutama bagi anak-anak yang mengikuti kegiatan di luar sekolah.
“Musim hujan sangat identik dengan musim penyakit, khususnya bagi anak-anak. Kondisi cuaca yang buruk membuat kondisi badan drop, belum lagi persebaran kuman dan penyakit melalui air hujan. Sistem imun anak-anak yang belum sempurna ini yang mengakibatkan mudah terserang penyakit,” kata dr Agus Harianto SpA (K), dokter spesialis anak RSU dr Soetomo, Surabaya, Jawa Timur.
Meski genangan tidak sampai berhari-hari, namun telah menyebabkan meningkatnya kasus anak-anak yang sakit secara drastis dibanding saat musim kemarau. Air selokan yang mengandung bakteri dan virus menyebar lewat air hujan dan membawa berbagai macam penyakit. Mulai dari muntah merak, penyakit kulit, infeksi saluran pernapasan, hingga infeksi yang diakibatkan cacing dan kuman lainnya.
Sementara itu, imbauan Surat Edaran Nomor 1 Tahun 2025, menyusul prakiraan cuaca dari BMKG terkait hujan lebat disertai angin kencang dan petir di sebagian wilayah Kalimantan Timur. Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi terhadap potensi bencana hidrometeorologi, seperti banjir, tanah longsor, angin kencang, pohon tumbang, serta gelombang tinggi di wilayah pesisir.
Cuaca ekstrem bisa datang tiba-tiba, dan masyarakat harus bersiap. Meminta semua pihak meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti imbauan yang telah disampaikan.
Ada 7 Imbauan penting
1. Pantau Perkembangan Cuaca Secara Berkala,
2. Hindari Aktivitas di Luar Ruangan: Jika terjadi cuaca buruk (hujan lebat, angin kencang, atau petir),
3. Periksa dan Bersihkan Saluran Udara.
4. Amankan Lingkungan Sekitar,
5. Siaga di Daerah Rawan Bencana,
6. Laporkan Kejadian Darurat kepada Pihak Berwenang,
7. Jaga Kesehatan dan Kebersihan

Sementara itu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mengingatkan masyarakat mewaspadai dampak kesehatan dari penyebaran partikel-partikel plastik yang ikut terbawa ketika hujan turun.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan Aji Muhawarman menuturkan, keberadaan mikroplastik di air hujan tidak berarti air hujan berbahaya langsung bagi kesehatan, tetapi tetap perlu diwaspadai. “Fenomena ini perlu diwaspadai, bukan ditakuti. Ini sinyal bahwa partikel plastik sudah tersebar sangat luas di sekitar kita,” ujar Aji, dikutip dalam keterangan pers, Jumat (31/10/2025). Aji menuturkan, menurut berbagai penelitian, manusia dapat terpapar mikroplastik lewat dua jalur utama.(rud/KP)












