Uang Miliran di Beloan, tapi Sia-sia

Catatan: Rudy Suhartono

Seharusnya Kampung Muara Beloan, Kecamatan Muara Pahu lebih sejahtera rakyatnya. Dari hasil panen perikanan melimpah. Tapi justru hidupnya jauh dari harapan. Kenapa dan mengapa?. Berikut catatannya.

SESUAI Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Kutai Barat Nomor 14 Tahun 2003 tentang pembentukan Kampung Muara Beloan dan puluhan kampung lainnya. Bahwa, luas wilayah Muara Beloan 8.430 hektar. Dari luas lahan itu, sekitar 95 persen kawasan rawa, sisanya puluhan anak sungai, dan danau. Kemudian, sekitar 5 persen pemukiman dan hutan satwa.

Dengan jumlah penduduk hingga Desember 2025 adalah 215 kepala keluarga (KK) dan 758 jiwa meliputi 4 RT. Sekitar 90 persen penduduknya adalah nelayan perikanan tradisional. Sisanya 10 persen adalah karyawan tambang batubara, perkebunan sawit, aparatur sipil negara (ASN), Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (P3K). Selanjutnya, aparatur pemerintah kampung dan swasta (pedagang, buruh bangunan/tukang, dan lainnya).

Besarnya kawasan perikanan air tawar menjadikan Muara Beloan, salah satu kampung penghasil ikan air tawar terbesar di Kabupaten Kutai Barat. Bahkan sesuai Surat Keputusan Bupati Kubar tahun 2025, Muara Beloan ditetapkan sebagai Kampung Ikan Sejahtera (KIS).

MELIMPAH : Panen ikan melimpah tapi harga murah, karena akses jalan terisolir.

Berdasarkan data tangkapan dan pengolahan ikan di Muara Beloan hingga 2025, untuk ikan basah/hidup seperti patin, haruan, toman, baung, biawan dan lepok dijual ke sejumlah pasar di ibu kota kabupaten. Seperti pasar di Kecamatan Melak, Barong Tongkok, dan sekitarnya.

Produksi atau panen ikan basah/hidup yang dijual ke pasar ibu kota kabupaten antara 200 sampai 400 kg per hari. Menghasilkan 6.000 kg/6 ton sampai 12.000 kg/12 ton per bulan. Dengan harga jual hanya Rp20 ribu per kg. Artinya omset per bulan antara Rp120 juta sampai Rp240 juta.

Untuk pengolahan ikan asin dan asap/salai. Jenis ikan asin yakni biawan, haruan, toman dan lepok sekitar 100-500 kg per hari. Untuk estimasi sebulan atau 30 hari sekitar 3.000 kg/3 ton sampai 15.000 kg/15 ton. Untuk harga jual per kg antara Rp25 ribu sampai Rp55 ribu. Omset, per bulan ikan asin untuk harga Rp25 ribu per kg menghasilkan antara Rp75 juta sampai Rp165 juta. Sedangkan harga Rp55 ribu per kg mendulang pendapatan Rp375 juta sampai  Rp825 juta.

Selanjutnya untuk ikan asap/salai lepok dan baung. Panen per hari 50 kg sampai 150 kg. Jika 30 hari atau sebulan dengan akumulasi 1.500 kg/1,5 ton sampai 4.500/4,5 ton. Hanga jual berkisar Rp145 ribu sampai Rp180 ribu per kg. Omsetnya, sebulan Rp217,5 juta/Rp270 juta. Kemudian harga Rp180 ribu per kg antara Rp652,5 juta hingga Rp810 juta.

Untuk menjamin kesehatan hasil pengolahan ikan asin dan salai/asap, diperlukan Teknologi Tepat Guna Mesin Oven khusus. Tanpa listrik. Sehingga ikan yang diolah/produksi, lebih higienes dan mudah. Meski cuaca hujan. Langkah ini belum jadi perhatian pemerintah. Padahal ini peluang.

TERANCAM PUNAH

JALAN KAMPUNG RUSAK : Tak lama lagi akses jalan ke Muara Beloan akan mulus. Ini janji Pemkab Kubar tahun anggaran 2026 akan dibangun secara multiyears. Solusi atasi kemiskinan.

Meski panen ikan di Muara Beloan terbilang besar. Namun populasi perikanan per bulan mengalami penurunan. Hal ini ada beberapa penyebab. Di antaranya, kawasan perikanan yang sudah alihfungsi menjadi dua lintasan jalan produksi/hauling tambang batubara. Ini berada di kawasan utara hingga ke barat. Untuk kawasan selatan sempat dialihfungsi pembukaan perkebunan kelapa sawit. Meski gagal akibat dalamnya rawa perikanan. Tapi kawasan perikanannya menjadi rusak, bahkan ikannya sudah banyak menghilang. Dampak buruk lainnya, adanya illegal fishing berupa setrum ikan dan meracun. Inipun berakibat, pesut sudah tidak mau lagi berada di bantaran Sungai Beloan. Padahal dahulunya banyak pesut yang memakan ikan.Ikut terancam, bekantan. Diburu oleh warga luar untuk dikonsumsi.

Melihat besarnya panen ikan, berharap agar pemerintah lebih mengutamakan pembangunan badan jalan akses yang hanya tinggal 6 km lebih saja. Sehingga hasil panen ikan tidak sia-sia. Hingga kini harga ikan di Muara Beloan sangat murah akibat akses jalan rusak. Bayangkan saja harga ikan di Beloan dari Rp1.000 sampai Rp20 ribu per kg. Sementara harga ikan di pasar Melak dan sekitarnya mencapai Rp5 ribu sampai Rp 75 ribu per kg. Namun keluhan ini akan segera terjawab. Pemkab Kubar menjanjikan tahun anggaran 2026 akan dibangun jalan semenisasi secara multiyeas. Terima kasih pak Bupati Kubar Frederick Edwin.

PUSAT PERIKANAN STOK IKN

POTENSI PERIKANAN: Lahan siap hibah menjadi kolam budidaya perikanan stok pangan IKN.

Untuk jangka panjang, Muara Beloan menyiapkan hibah kepada pemerintah untuk menjadikan kawasan perikanan seluas 5.000 hektar. Tujuannya untuk dikembangkan menjadi kawasan budidaya perikanan secara besar dan secara modern. Dengan membangun kolam besar. Nanti hasil ikannya bisa untuk stok pangan Kubar, Kaltim hingga Ibu Kota Negara (IKN).

Komitmen ini tunggu apalagi. Lahan siap dan warga juga siap jadi pengelola budidaya perikanan air tawar. Tinggal niat pemerintah melihat peluang ini. Tidak saja kedepannya menguntungkan warga Muara Beloan. Melainkan bisa menjadi potensi pendapatan asli daerah bagi Bumi Tanaa Purai Ngerima, Kabupaten Kutai Barat. Belum lagi besarnya potensi wisata perikanan, alam, satwa dan lainnya.

Untuk budidaya perikanan air tawar di Muara Beloan ini telah mendapatkan respon positif oleh lembaga resmi pemerintah. Di antaranya, pernah ditinjau kawasan perikanan di Muara Beloan oleh UPT Balai Benih Perikanan Budi Daya Air Tawar (BPBAT) Mandiangin, Kalimantan Selatan. yang membawahi perikanan se-Kalimantan. Kemudian, dari tenaga ahli Institut Teknologi Bandung (ITB) Fakultas Perikanan, dan terakhir dari Universitas Airlangga Surabaya. (***/Petinggi Muara Beloan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *