Menghujat atau Fitnah

Catatan : Rudy Suhartono

Bisa buat renungan sejenak. Apakah kita sempurna. Atau sudah pernah berbuat demikian. Baru akan berbuat. Atau belum pernah. Apa itu, dua kata suka : menghujat atau memfitnah. Jawabannya hanya kita sendiri yang tahu. Terutama,  Tuhan Yang Maha Esa, justru yang lebih tahu.

Kini marak, hujatan dan fitnah kepada para pemimpin atau bahkan mantan pemimpin. Salah satunya yang viral di media sosial (medsos) adalah mantan Presiden RI ke-7, Joko Widodo. Tak puas di level atas. Merambah hujatan atau fitnah itu menjamur kepada pemimpin di provinsi, bupati hingga kepala kampung atau petinggi.

Terutama di era digital saat ini. Orang mudah menyampaikan kritik. Baik melalui medsos maupun melakukan pernyataan ”provokasi’. Tak puas terkadang penghujat juga menyampaikan langsung dari warga ke warga atau dari rumah ke rumah. Atau dengan cara sambil minum kopi atau ngejos bareng. Isinya ya.. menghujat atau ghibah.

Padahal banyak pekerjaan yang harus diselesaikan atau dimusyawarahkan. Berpikir positif lebih baik. Menuju hidup masyarakat bisa lebih mandiri dan sejahtera. Demikian di lingkungan masyarakat. Banyak hal yang harus dikerjasamai. Membuat sesuatu yang menghasilkan demi kepentingan bersama. Bukan sebaliknya jadi pahlawan provokator. Ketika ada kepentingan tertentu, lalu berteriak ke sana ke mari. Seolah-olah sedang baru bangun tidur untuk berbuat kebaikan. Sementara diberi amanah malah tertidur.

Ada salah satu problem. Saat dibuka pencalonan menjadi kepala adat kampung. Tidak ada yang mendaftar. Dibuka lagi pendaftaran tak satupun mau mendaftar. Padahal, banyak kritikan terhadap lembaga adat harus begini atau begitu. Akhirnya hanya ada dua pendaftar, setelah dibuka kedua kalinya. Lalu prosesnya dipilih sesuai aturan. Eeeh. Sudah dipilih malah jadi hujatan. Tidak becus lah. Kurang pintar lah. Lambat lah. dan kata-kata negatif seterusnya …….

Padahal di suruh mendaftar tidak mau. Tapi senangnya menghujat saja. Memang kita lebih mudah mengomentari ketika menyaksikan pertandingan sepakbola. Namun lebih sulit jika jadi pemain bola. Itulah gambaran kecil yang harus disadari. Mudah menilai orang tapi diri sendiri saja tidak kuasa.

Heeee. Sabar dulu ???

Dalam islam ada istilah ghibah. Arti ghibah adalah menggunjing dengan cara membicarakan aib yang sebenarnya. Atau membicarakan keburukan atau kekurangan orang lain di belakangnya. Bahkan jika hal itu benar adanya, karena orang yang dibicarakan sampai tidak suka mendengarnya.

Lantas apa keuntungan bagi yang menghibah atau memfitnah. Jelas sangat merugikan. Menjadikan bagian terkucilkan dari lingkungan masyarakat. Bahkan bisa jadi menjadi referensi, jika dirinya sendiri yang justru lebih buruk dari yang di-ghibah atau di fitnah tersebut.

Perbuatan ghibah, di dalam Islam, dianggap sebagai dosa besar. Dilarang karena dapat merusak hubungan sosial. Ghibah juga sering kali disebut mirip dengan gosip, fitnah, dan buhtan. Istilah Buhtan dari bahasa Arab yang berarti fitnah. Atau mengada-ada cerita bohong tentang orang lain. Tujuannya untuk menjelek-jelekkan atau merendahkannya. Pengertian lain, Buhtan mencakup pembicaraan yang tidak benar dan dusta.

Menghujat dan fitnah adalah fenomena ini dapat berdampak negatif pada lingkungan kerja. Menurunkan semangat, dan menciptakan lingkungan yang tidak sehat. Ada banyak pepatah tentang pemimpin. Seperti peribahasa, “Gajah di pelupuk mata tak tampak, semut di seberang lautan tampak”. Pepatah ini berarti orang lebih mudah melihat dan menyalahkan kesalahan orang lain. Semut meskipun kecil, tetapi tidak menyadari kesalahan diri sendiri (gajah) yang mungkin lebih besar. Pepatah ini adalah bentuk nasihat untuk lebih banyak melakukan introspeksi diri daripada sibuk mengkritik orang lain. 

Padahal seseorang mungkin sibuk mengkritik merupakan kebiasaan buruk. Tetapi tidak sadar bahwa dirinya sendiri banyak kekurangan. Salah satu contoh. Seorang pekerja mungkin terus-menerus mengkritik kinerja rekan kerjanya. Tetapi tidak menyadari bahwa ia sendiri sering terlambat atau kurang komunikasi. 

Peribahasa ini mengingatkan kita untuk:

  • Mencermati diri sendiri terlebih dahulu: Sebelum mengkritik orang lain, lebih baik memeriksa dan mengoreksi diri sendiri terlebih dahulu.
  • Lebih introspektif: Belajar untuk melihat kekurangan diri sendiri dengan jujur agar dapat memperbaiki diri.
  • Menerapkan keadilan: Tidak hanya fokus pada kesalahan orang lain, tetapi juga menyadari bahwa setiap orang, termasuk diri kita, tidak sempurna

Seorang pemimpin adalah ”penjual harapan” atau “Pemimpin yang baik adalah yang dapat membuat orang lain merasa aman”. Pepatah lain menekankan pentingnya kerendahan hati, seperti “Pemimpin sejati tidak mencari kehormatan, tapi memperjuangkan keadilan”. Ada juga yang menekankan pada tindakan. Misalnya “Pemimpin hebat tidak menyuruh Anda melakukannya, mereka menunjukkan cara melakukannya”. 

Para pemimpin dapat mengambil beberapa pendekatan dalam menghadapi hujatan dan fitnah: 

  • Tetap Tenang dan Tidak Emosi: Sangat penting untuk tidak terpancing emosi saat menghadapi tuduhan palsu. Mengambil napas dalam-dalam atau beristigfar dapat membantu menenangkan diri.
  • Fokus pada Kebenaran dan Tujuan: Tetap berpegang pada fakta dan tujuan awal kepemimpinan. Berjuang di jalan yang benar sering kali memerlukan kesabaran ekstra dalam menghadapi cobaan.
  • Memberikan Penjelasan yang Jelas: Meskipun terkadang diam adalah pilihan, ada kalanya penjelasan yang hati-hati dan bertanggung jawab diperlukan untuk mengklarifikasi isu, terutama jika isu tersebut mulai dipercayai banyak orang.
  • Membangun Komunikasi yang Baik: Komunikasi yang transparan dan efektif dengan tim atau masyarakat dapat membantu mencegah penyebaran fitnah yang lebih luas.
  • Menciptakan Lingkungan yang Sehat: Sebagai pemimpin, penting untuk menjunjung tinggi rasa hormat, toleransi, dan empati di antara anggota tim untuk mengurangi konflik internal.
  • Mengambil Pelajaran dari Teladan: Banyak pemimpin, bahkan tokoh agama, menghadapi fitnah yang tidak kunjung selesai. Mereka menjadikannya sebagai motivasi untuk tetap istiqamah dalam kebaikan dan bersabar.
  • Mendoakan Kebaikan: Dalam beberapa ajaran, mendoakan kebaikan bagi pemimpin (termasuk yang memfitnah) dianggap sebagai sikap yang bijak.

LANTAS APA KATA MEREKA

Mantan presiden RI ke-7, Joko Widodo yang banyak menerima kritikan di masa pensiun di Solo. Meski demikian, Jokowi nama masyhur Joko Widodo tetap sabar menghadapinya. Bahkan diberbagai kesempatan pertemuan selalu menebar senyum. Mengambarkan tak sedikitpun amarah atas berbagai tuduhan negatif.

Namun Jokowi telah memberikan pernyataan ketika diwawancarai salah satu stasiun televisi. Ada 3 kata bijak disampaikan Jokowi, menggunakan bahasa Jawa.

  1. Lamun Siro Sekti Ojo Matini (Kalau kamu sakti, tapi jangan mematikan. Meskipun kamu kuat jangan suka menjatuhkan).
  2. Lamun Siro Banter Ojo Ndisi,i (Meskipun kamu cepat jangan juga mendahului).
  3. Lamun Kue Pinter Ojo Minteri (Kalau kamu pintar jangan mempintari orang lain. Meskipun kamu pandai tapi jangan sok pintar).

Ada yang menarik diungkapkan ayah dari Wakil Presiden Gibran Rakabumi Raka. Di dunia ini tak ada sekuat bapak Presiden Prabowo. ”Saking kuatnya, sampai detik ini saya melihatnya tidak ada yang berani mengkritik. Tapi yang jadi sasaran adalah Jokowi. Karena saking kuatnya bapak presiden Prabowo Subianto. Dikit-dikit yang salah Jokowi. Dikit-dikit yang salahJokowi.Coba sekali-kali menyalahkan pak Prabowo. Ngak berani,” kata Jokowi yang disambut gelak tawa dan tepuk tangan, memberikan pidato di acara Puncak Hari Ulang Tahun ke-17 Partai Gerindra yang berlangsung di Sentul City International Convention Center, Bogor Jawa Barat pada Sabtu 15 Februari 2025.

Presiden Prabowo Subianto turut prihatin atas viralnya kritikan kepada Jokowi. ”Karena biar bagaimanapun ini prestasi beliau (Jokowi). Ini hasil negosiasi beliau,” kata Prabowo yang kembali memberikan semangat kepada Jokowi.

Presiden pun menyampaikan imbauan kepada masyarakat di Tanah Air. ”Masyarakat Indonesia, marilah kita pandai-pandai menghormati jasa-jasa tokoh atau pemimpin. Pemimpin itu manusia. Apakah pemimpin maha paripurna. Tidak!!!. Pemimpin ada kekurangan dan esensinya punya rasa keadilan dalam hati,” tutup Prabowo.

Bahkan sebelum menjadi Presiden, Prabowo pernah mengalami fitnah hingga beberapa kali. Menghadapi fitnah tersebut dia mengaku menemui gurunya. Lalu dalam pertemuan empat mata itu, si guru memberikan nasihat. “Jangan takut difitnah. Kalau kamu difitnah, berarti kamu diperhitungkan. Kalau difitnah berarti kau ditakuti. Kau difitnah berarti kau disuruh hati-hati,” papar Prabowo. Lalu guru tadi, memberikan pesan kepada Prabowo Subianto, bahwa ujian, fitnah, dan kritik adalah bagian dari perjalanan orang yang sedang naik. (***)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *